Jika mahasiswa membawa print out, lalu dibimbingkan. Kemudian, ia mendapatkan coretan yang banyak –alias mayor– apakah ini yang dinginkan mahasiswa bimbingan skripsi?
Tidak. Itulah jawaban yang bisa saya tebak. Siapa pun mahasiswa yang membimbingkan naskah karya tulis ilmiahnya, berharap naskah yang disusun ‘sudah’ benar. Tidak ada coretan. Dan yang paling diimpikan, langsung dikasih tanda tangan oleh pembimbing.
Jika impian (dream) yang banyak dinginkan mahasiswa kala bimbingan ingin seperti itu, proses menulisnya kudu bener dahulu. Ukurannya, buku pedoman penulisan karya ilmiah –skripsi– yang telah diterbitkan kampus.
Celakanya, Impian di atas banyak yang kandas. Naskah karya skripsi diganjar penuh coretan. Telaah sementara saya, mahasiswa kurang-tidak melakukan koreksi mandiri sebelum naskah skripsi akan dibimbingkan.
Padahal, mahasiswa sebenarnya bisa melakukan koreksi sejak dini. Mulai dari saat menuliskan skripsi. Coba dibayangkan, bila skripsi yang dibuat dari literatur online yang tanpa basa-basi langsung copy paste.
Terlihat, font yang tidak sesuai, pengutipan yang menggunakan reference manager mendelay-zotero di mana mahasiswa langsung men-download jurnal dan ter-record di base data lupa melakukan meta data.
Meta data yang saya maksud meliputi judul berita yang masih kapital, tidak menghapus gelar serta item-tem pengutipan yang lain. Dipastikan kala mengutip, kesalahan penulisan –huruf kapita, gelar– akan tampak di catatan kaki secara otomatis.
Jika mulai awal hingga akhir terdapat rujukan, kesalahan sebagaimana tertutur di atas, akan membuahkan catatan dari pembimbing. Bisa ringan, bisa juga berat, alias mayor.
Teliti Mandiri
Sebagai antisipasi agar mahasiswa tidak mendapatkan catatan berat, langkah yang perlu dilakukan adalah dengan meneliti secara mandiri naskah skripsi sebelum dicetak atau dikirim via online.
Dalam hal apa saja?
Jawabnya, typo atau kesalahan ketik, lalu komponen catatan kaki yang tidak lengkap, tata letak yang kurang-tidak sistematis, pengutipan ayat yang terbalik-tidak bisa dibaca, jenis penggunaan font yang tidak sama dengan pedoman, proses rata kanan-kiri dan tengah (center) yang luput perhatian.
Prosesnya, kala menulis skripsi dari awal hingga akhir, mahasiswa bisa melihat ulang perhalaman terdapat salah ketik atau tidak.
Lalu, footnote mana dan pada halaman berapa kurang lengkap, sub judul hingga sub-sub judul mana yang masing terpenggal antara judul dan isinya, pengutipan ayat terbalik kala proses cetak, kemudian jenis font yang beda hingga telah rata kanan-kiri hingga tengah.
Sebagai tips, mahasiswa bisa me-review naskah skripsinya dengan menyimpannya format pdf. Sebab, kala masih dibuka melalui microsoft word, kesalahan ketik tersebut tidak terlihat. Jadi, tidak perlu mengulang untuk dicetak via kertas terlebih dahulu.
Ketika editing mandiri (self-editing) ini dilakukan oleh mahasiswa sebelum bimbingan, saat dikoreksi pembimbing akan minim catatan. Proses bimbingan tidak lama.
Bahkan dari sedikit catatan itu yang dilanjut dengan upaya perbaikan atau revisi, dipastikan pada bimbingan berikutnya mahasiswa sudah mendapatkan tanda tangan dari pembimbing.
Mengapa ini kudu dilakukan?
Proses pengerjaan skripsi yang memakan waktu, kemudian kesibukan dosen yang juga memiliki berbagai aktivitas, belum lagi time line pendaftaran ujian yang juga cepat, maka cara ini bisa membantu dan saya rekomendasikan.