SIAPA sih yang tidak bahagia, kala diminta mengisi di almamater madrasah –Attanwir Talun! Perasaan itulah yang kini saya rasa.

Mulai dari malam, tepatnya pukul 20.00 Wib lebih, saya telah mempersiapkan materi yang akan diberikan untuk besuk pagi. Utamanya, kepenulisan apa yang perlu difokuskan. Alhasil, tercetuslah tulisan esai.

Bagi saya, pilihan esai sebagai fokus materi yang akan dipelajari, menunjukkan bila peserta didik Aliyah Attanwir bisa menulis apa saja. Hal itu, guna menunjukkan bila menulis itu kudu dekat dengan hal-hal yang kini mereka alami.

Kalau saya boleh memetakan, bila fokus peserta didik selama belajar di aliyah adalah perihal persahabatan, guru yang menjadi favorit, serta pelajaran yang disukai. Adapun fokus kemudian bertambah satu item, setelah saya berdiskusi dengan pembimbing kelompok ilmiah remaja (KIR) Ustaz Herry L.

Media Gadget

Oleh sebab tempat kegiatan di Gedung MTs Attanwir, sekilas saya sudah tahu gambarannya. Dalam benak saya, bila –Jumat (18/9/26)– kala proses penyampaian saya materi menggunakan proyektor, peserta didik yang di belakang tidak akan melihat materi apa yang tersaji di depan. Agar ada asas kesamarataan dalam menerima materi, gadget menjadi media yang saya pilih sebagai sarana penyampai materi.

Akhirnya, malam Jumat, saya lanjutkan menyusun ide proses penyajian materi dengan platform padlet. Dari slide 1 sampai 4, saya desain layer mana yang perlu scroll ke bawah-atas, dan mana layer yang scroll kanan-kiri. Semua saya persiapkan setelah melakukan impor file materi hasil desain Canva.

Tepat pukul 23.30 Wib, materi pun selesai. Hanya saja, sebelum tidur saya usahakan membaca buku baru yang terbeli. Yakni, karya Fahruddin Faiz yang berjudul Sebelum Filsafat. Saya menyadari, pengetahuan yang saya ketahui baru sedikit. Oleh sebab inilah, kehausan untuk membaca coba saya paksa agar membiasa.

Kala pagi tiba, saya pun bersiap-siap berangkat ke Attanwir. Seingat saya, kala melihat jam dinding, pukul 07.08 Wib saya otw dari kampus. Ketika melihat jam tangan, saya sampai tepat pukul 07.54 Wib.

Sesampainya di Attanwir, saya berencana memarkirkan motor di dekat irigasi saja. Namun, karena full, saya kemudian masuk dan memakirkan motor di tempat parkir dalam madrasah.

Ketika motor terparkir, tiba-tiba dari belakang saya menyusul Mas Najib yang juga baru datang. Setelah meringkesi perbekalan yang perlu dibawa, saya dan Mas Najib kemudian berjalan ke lokasi. Ketika akan melewati gerbang, saya kemudian dijemput siswa PPM sembari diantarkan lokasi acaranya.

Dalam langkah ke ruang kelas tepatnya Lantai 1 Gedung MTs, saya sambil bertanya perihal acara sudah dimulai apa belum. Panitia kemudian menjawab, sudah dimulai dan sampai sambutan dari pembina. Artinya, panitia, peserta, dan pembina, tidak menunggu lama kehadiran saya.

Saya kemudian ke ruang kelas transit. Saya buka laptop, kemudian di sinilah saya menambah sedikit dari materi yang telah saya siapkan. Kala tiba saya memberi materi, saya kemudian mengatur diri seraya mengucap basmallah.

Berjalan

Ketika membuka dengan salam, dan menyapa semua yang hadir, dugaan ruang tergambar ada depan dan belakang. Oleh karena yang dipakai adalah dua ruang kelas, alhasil terdapat pembatas yang menghalangi pandangan dan gelombang penyampaian materi secara verbal.

Demi menyeimbangkan keakraban antara peserta didik depan, tengah, dan belakang, saya memilih berjalan mondar-mandir. Artinya, terkadang di depan, dan pada sisi lain ke tengah hingga sampai ujung belakang. Semua bertujuan agar interaksi diklat kepenulisan berjalan humanis. Artinya, terdapat ‘perhatian’ untuk semua peserta.

Bicara diklat, tentu ada sisi pendidikan atau mengutip KBBI sebagai proses mengubah sikap peserta didik guna membekali keterampilan menulis melalui upaya pelatihan, lalu menggabungkan usur materi dan praktik. Maka, untuk menuju kepada keberhasilan praktik, pemahaman materi juga kudu berhasil.

Perihal materi diklat supaya terakses peserta didik tanpa terkecuali, gadget yang sekadar untuk chat dan menikmati tontonan; bagi saya perlu didekatkan menjadi sarana edukatif. Salah satunya, keterampilan menulis esai.

Hal ini selaras dengan pendapat S. Nasutin dalam buku Teknologi Pendidikan (1987:20), menggunakan teknologi –dalam hal ini aplikasi notes (catatan) di gadget– sebagai sarana penyampai materi diklat, adalah usaha sungguh-sungguh yang dipersiapkan untuk mewujudkan keberhasilan transformasi pengetahuan.

Alhasil, berbantu platform padlet untuk mendesain materi diklat menjadi menarik dan interaktif, hasil post test menunjukkan bila peserta didik mayoritas puas dengan gaya narasumber dalam penyampaian materi.

Kemudian dari isi materi, dalam hal ini menulis esai, peserta didik menjadi mengerti. Lalu dari keinginan peserta didik menjadi penulis, telah ada 13 peserta didik yang secara gamblang berkeinginan jadi penulis. Jika demikian, ajakan kepada generasi alpha –lahir antara 2010-2025– untuk jadi penulis, telah muncul dengan sadar diri. Alhamdulillah.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *