Pondasi rumah alhamdulillah sudah selesai. Keinginan kuat untuk bersih-bersih akhirnya saya penuhi Ahad (20/09/2026). Meski siang nan panas, saya usahakan tetap pulang. Tidak lain, untuk melihat langsung bangunan kemudian bersih dan siram agar adem.

Meski panas menyengat, saya coba tetap bersih-bersih. Apalagi, sapu memang sudah saya sediakan. PR-nya adalah, tinggal ekrak atau alat untuk mengumpulkan untuk kemudian dibuang di tempat sampah.

Meski belum memiliki, proses untuk bersih-bersih tetap berjalan. Saya sapu, lalu ketika sudah terkumpul sampah saya jumput dan wadahi di karung. Setelah itu, saya kemudian mulai siram dengan menyalakan sanyo yang sudah tersedia.

Hawa seger dan adem terasa kala air menyemprot dari selang dan jatuh ke tanah. Terlihat pula, debu mulai berkurang tidak se-ekstrim sebelum di siram. Ketika sampah bersih, lalu adem terasa setelah disemprot air, hati jadi puas. Setidaknya, meski rumah belum jadi, usaha untuk membersihkan sudah intensif saya lakukan.

Ke Rumah Mae

Pasca itu, sebenarnya mau mampir ke rumah teman. Tapi, posisi belum dibalas chat whatsapp, akhirnya mampir ke rumah Mae. Sebagaimana biasa, kala ke rumah Mae, yang saya lakukan adalah bersih-bersih.

Rumah yang berlantai tanah memang kudu sering disapu. Maka, saya ambil sapu lidi, saya sapu rumah Mae dari pawon –dapur–, ruang tengah, tamu, hingga emperan atau halaman. Ketika sudah bersih, saya kemudian nyirami agar tidak bleduk atau berdebu. Apalagi, siang memang panasnya luar biasa. Ketika disiram, harapannya bisa adem udaranya.

Kadang kita sebagai anak ‘lupa’ untuk sekadar membersihkan rumah yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Apalagi kalau sudah berumah tangga sendiri-sendiri. Rumah orang tua, kadang luput untuk mendapatkan porsi sentuhan bersih-bersih dari anak-anaknya.

Ketika sudah selesai, saya melihat Mae sedang memasak kotok mlanding atau pete Jawa. Mae bilang, “mlanding itu akan dimasak dengan tahu”. Apa yang dimasak Mae, membuat saya tertarik. Jadi setelah masakan mateng, saya kemudian makan dengan nasih sisa di mana Mae menanak nasi baru.

Sengaja, saya makan sedikit. Tujuannya. agar kala istri memasak bisa makan kembali sebagai bentuk hormat. Karena saya akan pulang, saya di-gawani sama Mae pisang ulin yang sudah matang. Alhamdulillah.

Mampir Warkop

Sebelum maghrib, saya perjalanan pulang. Saya pilih jalan irigasi. Tujuannya, ingin melihat seberapa besar air irigasi yang katanya ‘mengalir’. Memang sih, air irigasi mengalir. Hanya saja posisinya yang di atas, dan tidak sampai bawah.

Aliran air irigasi di atas memang disedot dengan disel oleh Hipa. Tentu, keperuntukannya buat areal sawah yang satu kelompok tani. Meski bagitu ketika Pae saya tanya perihal air Hipa, juga belum sampai sana. Ini artinya, kemarau ekstrim tak sebanding jumlah air yang mengalir. Meski air mengalir, tetapi retakan tanah (telo) bisa menghabiskan air berapa pun. Alhasil, air yang disalurkan ke Hipa belum sampai ke sawah Pae.

Ketika sudah sampai Bojonegoro, saya tidak langsung ke Rusun. Mampir ke Warkop KUA saya pilih. Tujuannya, selain ingin ngopi juga mengenang bila di situlah saya belajar menulis di media ‘J’. Maka, bila diketik nama saya di google, jejak karya saya masih tersimpan rapi di media tersebut.

Selain alasan di atas, tidak langsungnya saya pulang karena ingin mampir ke Gramedia. Ya, melihat buku-buku agar menguat semangat membaca dan berkarya menjadi penulis. Alhasil, selepas maghrib adalah waktu tepat untuk ke sana, sembari biar hilang dahulu sandikolo kata orang Jawa.

Ketika sampai di Gramedia, buku baru memang banyak tersedia. Apa yang diulas spesifik. Genre yang banyak adalah novel, lalu self-improvement atau pengembangan diri. Dari rak religi, saya baca sinopsis buku yang dituangkan di sampul belakang. Kemudian bergeser ke rak pengembangan diri, melihat-lihat yang menarik.

Sekilas membaca judulnya menarik. Lalu saya teruskan kepada sinopsisnya untuk saya timbang-timbang, apakah memiliki kegunaan praksis terkini terhadap profesi, juga disiplin pengetahuan yang saya pelajari! Pertimbangan-pertimbangan itulah yang membuat saya akhirnya menjatuhkan pilihan untuk membelinya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *