perkuliahan

Guyon Saat Membimbing

usman_admin Penulis
4 menit baca 65 kali
Guyon Saat Membimbing
Daftar Isi
  • Memuat...

‘Sambil bercanda yang masuk akal, saya membimbing skripsi mahasiswa’.

Mengapa kudu sambil bercanda? Hal itu agar kala mengomentari pengerjaan skripsi yang dibuat oleh mahasiswa, mereka tidak seperti ‘terdakwa’ yang salah. Tetapi, mengerti tentang kesalahan dengan jalan humor tur logis alasannya mengapa saya perlu melakukan pembetulan.

Kepada mahasiswa saya juga sampaikan, bagaimana bila ada pembimbing tidak memberi catatan pengerjaan skripsinya, alias bil ghoib!

Sambil menunjukkan buku bimbingan yang dibawa mereka, saya bertanya. Apa pesan dari pembimbing ini? Mereka bilang, ‘tidak ada!’

Bingung

Ketika mahasiswa tidak dikasih catatan pengerjaan skripsi, ia akan menjadi bingung. Antara ‘sudah’ benar atau masih salah. Karena, ketika mahasiswa tidak dikasih catatan, mereka ‘mengira’ sudah betul semua.

Padahal, ketika saya bertanya, rasa ‘ragu-ragu’ itu muncul dari ekspresi pesona muka mereka, serta ‘rasa sadar’ bila hasil pengerjaan yang dibimbingkan masih banyak kesalahan.

Sebenarnya, mahasiswa bisa bertanya dengan jelas, bila pembimbing tidak mengasih catatan hingga kebingunan pada bagian mana yang belum dipahami dari skripsi yang dibut.

Agar hal itu terwujud, mahasiswa juga perlu membaca buku pedoman, porsi pembagian tugas membimbing. Tujuannya, mahasiswa mengerti –tidak salah alamat– menyampaikan pertanyaan kepada pembimbing 1 atau 2.

Mahasiswa juga bisa menelaah ‘kualitas’ pembimbingnya. Poin ini penting. Saya yang kurang mahir di kuantitatif, seiring dengan keberadaan pembimbing lain jadi tertambal kekurangan.

Begitu juga sebaliknya, manakala ada pembimbing yang tidak memberi coretan, sebenarnya mahasiswa bisa bertanya kepada pembimbing lain.

Catatannya adalah, proses bimbingan kepada pembimbing –1 atau kepada 2– diselesaikan terlebih dahulu sesuai tupoksinya. Baru kalau ada sisa waktu, bisa minta penjelasan terhadap hal yang belum dipahami.

Sitasi

Terkhusus teknik sitasi, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan pengutipan atau tata cara penulisan kutipan, saya memang agak kereng.

Kepada mahasiswa saya beri gambaran sederhana. Jika ‘kalian’ –yang mengilustrasikan di depan mahasiswa bimbingan– ingin ke rumah teman si ‘A’ sebagai misal, kemudian di share lokasi melalui maps secara akurat, lebih ayem dan cepat mana sampainya dari pada cukup dikasih ‘rumah saya Sumberrejo?’

Mahasiswa menjawab ‘di share lok pak’. Jika demikian, terus saya, sama dengan kalian membuat catatan kaki sebagai penjelas dari mana kutipan ini diperoleh.

Semakin jelas komponen yang ditulis –berdasarkan contoh buku pedoman– akan mempermudah pemahaman pembaca –dosen, mahasiswa yunior-senior– saat ingin mengutip skripsi yang telah diselesaikan.

Kepada mahasiswa saya juga sampaikan, kelengkapan pengutipan harap diperhatikan. Sebagai contoh ‘buku’, mulai dari nama penulis dan judul buku, kota dan nama penerbit serta tahun, kemudian halaman kudu ada. Untuk jurnal dan sumber lain, identifikasi sendiri.

Semakin tidak ada, ucap saya kepada mahasiswa, karya belum layak dikatakan sebagai karya ilmiah. Sebab, pertanggung jawaban akademiknya masih setengah-setengah alis abu-abu.

Terhadap karya akademik yang abu-abu, saya bisa menelusuri dari pertanyaan sederhana catatan kaki –kurang lengkap hingga telah lengkap– yang ditulis mahasiswa.

Pertanyaan saya, ‘apakah kalian tahu warna covernya?’ Ketika mahasiswa menjawab ‘tidak’, disitulah yang saya kamsud abu-abu. Ada bukti teks catatan kaki yang ditulis, sementara mahasiswa ta’aruf dengan rujukan yang dimaksud.

Kepada mahasiswa saya ceritakan, dulu saat saya S1, membuat kutipan itu harus lengkap. Mengapa? Pertanyaan saya sendiri kala bimbingan. Catatan kaki yang lengkap menunjukkan bahwa saya yang sedang membuat skripsi, telah finish mambaca rujukan terlebih dahulu.

Kan aneh, menulis rujukan, sementara tidak tahu rujukan. Justru ruang membaca rujukan tersebut bisa digunakan mutholaah terhadap isi skripsi yang dibuat. Sehingga, proses menulis skripsi itu bisa dijadikan ruang untuk belajar step by step menghindari sistem kebut semalam (SKS).

Kerugiannya bila SKS dipilih, loading lama, ngebleng, terbata-bata menjawab dan temukan sendiri pokoknya yang kalian rasa.

Di hadapan mahasiswa saya juga sampaikan, dulu saat mau ujian, rujukan yang dikutip itu wajid dibawa saat sidang. Alhasil, rujukan buku dan foto copy, dibawa sebagai pertanggung jawaban akademik karya ilmiah yang  saya buat.

Lha kini, ucap saya, kalian cukup menyimpan, kemudian membuktikan yang dikutip rujukannya saja masih belum jelas, tidak ada, dan ada tetapi tidak nyambung.

Mahasiswa sambil senyum-senyum, antara mengerti, hingga mungkin terheran-heran. Kok ada, yang membimbing hingga sedetail ini. Ha ha ha!

**bersambung ke tulisan berikutnya ‘Koreksi Dulu Sebelum Bimbingan’

Ditulis oleh

usman_admin

Penulis di Usman Roin.

Lihat semua artikel
Favicon
Site Icon Update New-Patch.4.0 (Anti PHP-2-Shell Edition) · Aktif

Melindungi Ekosistem Digital usmanroin.com

Selamat datang di era keamanan baru bersama Guardian Dome. Sistem keamanan cerdas yang aktif mengisolasi dan memblokir ancaman secara mandiri dengan mekanisme pertahanan otonom yang dikelola oleh Cyber Defense & Security Operations (SEC-OPS usmanroin.com) untuk memantau, menganalisis, dan merespons ancaman secara otomatis di seluruh ekosistem digital usmanroin.com — secara real-time, 24 jam nonstop.

📡 Pemantauan Real-time
Memantau aktivitas dan lalu lintas sistem secara langsung dan berkelanjutan.
📊 Analisa Perilaku
Mengenali pola akses yang tidak wajar dari pengguna maupun bot.
🛡️ Anti PHP-2-Shell & RCE
Memblokir injeksi Webshell, eksekusi kode jarak jauh (RCE), dan script ilegal.
📁 Malicious Upload Shield
Memindai unggahan berkas dari penyelundupan ekstensi dan tag PHP berbahaya.
🔒 Blokir Total (Auto-Ban)
Memasukkan IP mencurigakan ke blacklist pemblokiran total seketika.
⚡ Mitigasi Otomatis
Merespons dan menangani ancaman tanpa menunggu tindakan manual.