Jumat (09/10/26), saya ngobrol sama mas Najib di Perpustakaan Unugiri. Nama lengkapnya M. Ainun Najib alumnus PAI dari Tuban. Dalam obrolan itu, dan mumpung dia ke Bojonegoro, saya menanyakan punya mengalaman konversi atau proses merubah karya ilmiah penelitian menjadi bentuk buku. Dia kemudian menjawab, belum.
Mumpung di perpustakaan, saya cari buku hasil konversi disertasi menjadi buku. Sekilas, apa yang disampaikan mas Najib bila bahasa konversi di buku tersebut tidak banyak berubah. Bahasa serius, kaku, masih tampak. Perihal biayanya juga lumayan mahal, sahut saya.
Pernah saya sedikit bertanya dengan teman yang kebetulan mendaur ulang hasil penelitiannya jadi buku. Dia bilang, untuk konversi saja atau dalam istilahnya ‘parafrase’ hampir mendekati 2 juta. Jika kemudian ditambah biaya produksi buku, hampir 5 juta.
Dari sini, saya tidak menyalahkan apa yang dilakukan teman. Toh, kebutuhan itu karena dia mendapatkan dana hibah dari kementerian. Prinsip pasrah bongkoan itulah yang membuat mahal. Sebab, setiap item pengerjaan dihitung dengan cost rupiah.
Bagi saya, yang juga memiliki penerbit sendiri –Pena Abadi– biaya segitu untuk menerbitkan buku terbilang mahal. Karenanya, ketika ada mahasiswa yang bertanya perihal biaya pembuatan buku hasil konversi penelitian, saya belum bisa menjawab. Bahkan, belum bisa mengerjakan untuk saat ini. Sebab, biaya yang mahal ada di konversi naskah penelitian ke format buku.
Pernah, saya dikasih insight menarik dari teman penerbit –Mitra Karya– mas Agus. Dia bilang begini, pak Usman jangan sampai membukukan hasil penelitian skripsi, tesis atau disertasi. Menurutnya, tidak keren dan produktif. Ruang ide untuk berkarya itu masih banyak. Itu saran apik yang saya tangkap dari pemilik nama M. Bagus Ibrahim.
Terhadap apa yang beliau sampaikan, saya setuju. Ruang akademik, eksplorasi ide masih luas untuk dirupakan buku, artikel ilmiah jurnal, kolom di media –online, cetak– serta personal website saya usmanroin.com.
Apalagi, untuk menjadi penulis, tidak memandang status. Asal memiliki semangat membaca, terus menulis dan menulis, gen penulis akan lahir.
Tulisan Buku
Kala membaca buku Henry Manampiring berjudul Filosofi Teras, di 2026 ini sudah cetakan ke-88. Satu kata, keren. Gaya menulis bukunya mudah dipahami. Renyah. Karenanya, gaya-gaya renyah dan mudah dipahami inilah yang kudu dilakukan oleh akademisi jika ingin membuat buku.
Dari bukunya Henry, saya teruskan kepada koleksi Fahruddin Faiz yang saya miliki.
Dari judul Filsafat Moral, Nalar Keislaman dan Keilmuan, Filsafat Kebahagiaan, Jatuh Cinta Kepada-Nya, Menghilang Menemukan Diri Sendiri, Menjadi Manusia Menjadi Hamba, Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki, Menaklukkan Kebahagiaan, Filsafat Seni Islam, Sebelum Filsafat, Filosofi Pendidikan Anak, Metode Berfilsafat, Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika, bahasa yang digunakan mudah dipahami.
Kemudian saya coba bandingkan lagi dengan karya luar negeri yang saya miliki, Cal Newport berjudul Digital Minimalism: Mempertahankan Fokus di Tengah Dunia yang Gaduh; lalu Yuval Noah Harari berjudul 21 Pelajaran Berharga untuk Abad ke-21, bahasa yang digunakan mudah dipahami.
Dua buku tersebut dalam menuturkan, seperti bercerita dan memakai kata ganti orang pertama tunggal ‘Saya’. Bahkan buku berjudul Building a Second Brain: Metode Efektif Mengelola Kehidupan Digital agar Lebih Produktif dan Kreatif karya Tiago Forte, lahir dari pengalaman terbaik atau best practise-nya.
Bisa disimpulkan, menulis buku itu secara kebahasaan kudu mudah dipahami kepada pembaca. Meminjam bahasa Henry Manampiring (2025: xiii), berani mengemukakan pemikiran ‘antik’ diri sendiri.
Kemudian, tema yang diangkat dekat. Bukan harus yang jauh. Dalam arti, di luar radar pengetahuan dan kompetensi kita. Itu saja jih.