Buku Agar Ramadanmu Kaya Amal –disingkat ARKA– karya saya yang terbaru 2026, hakikatnya lahir dari keisengan membuat group kecil Pena Blogger antara saya, dan Pak Slamet Widodo.
Pasca beliau menjadi bintang tamu program temu penulis di Perpustakaan Unugiri, Rabu (17/12/2025), kami masih sering berkirim tulisan.
Puncaknya adalah saat Ramadan 2026 M/1447 H. Saat itu, beliau secara japri mengirimkan tulisan yang tayang di media –Jawa Pos Radar Bojonegoro– rubrik Lembar Budaya kepada saya. Saya juga tidak mau kalah, karya tulis yang tayang di blokbojonegoro saya kirimkan kepada beliau.
Dari situlah saling apresiasi, saling memotivasi menjadi ruang tumbuh untuk melahirkan karya tulis lagi dan lagi. Tidak sebatas share, baca, dan selesai.
Buat Group
Agar ruang tumbuh menulis terwadahi, tidak sekadar dinikmati berdua, akhirnya saya membuat group Pena Blogger. ‘Pena’ ini menyimbolkan alat tulis yang kudu dibuat untuk menulis. Artinya, kita yang sudah memiliki modalitas alat menulis, PR-nya tinggal menulis, menulis, dan menulis.
Sedangkan ‘blogger’, lebih kepada ruang digital penampung karya diri yang dihasilkan agar tidak berserakan. Toh, tulisan-tulisan ringan tidak semua diterima oleh media cetak maupun online. Sarananya, tentu melalui blogger yeng telah saya dan Pak Slamet miliki.
Alhasil, group tersebut akhirnya menjadi ruang saya, Pak Slamat, saling berkompetisi menaklukkan pasif diri menuju produktif.
Kontemplatif
Buku dengan tebal 90 halaman ini, berisi ‘esai’ meminjam bahasa Didik Komaedi (2011: 107) sebagai karangan apa saja dan personal yang diuraikan dengan lincah kata. Di dalamnya, ada 30 esai naratif atau persoalan-persoalan keseharian tentang diri, keluarga, kampus dan masyarakat saya jelaskan secara logis.
Karena momentum tulisan yang saya buat di Bulan Ramadan, maka tulisan yang lahir bernilai muhasabah diri. Bagaimana saya sebagai diri tidak tidur selepas sahur, contoh. Mengapa ‘tidak perlu’ melakukan hal itu secara filosofis, lalu upaya apa yang bisa menggantikan?
Jawaban-jawaban pertanyaan seperti itulah yang kemudian saya tulis. Perubahan-perubahan diri secara kualitas itu kemudian tidak kita saja yang melakukan. Harus ada kebermanfaatan kepada sesama.
Alhasil, menulis adalah sarana tepat mewujudkan hal itu. Sebagaimana dikatakan oleh Sastrawan Perancis Jules Renand dalam Naning Pranoto (2015: 21), bahwa menulis adalah cara terbaik untuk berbicara tanpa gangguan.
Jika demikian, kapan tepatnya menulis kala Ramadan? Pertanyaan ini menarik. Esai saya buat salah satunya kala pustakawan sudah pulang (hal. 3), di hari libur (hal. 7), menunggu bapak di rumah sakit (hal. 15).
Selepas subuh, tarawih, dini hari, itu juga bagian dari pemanfaatan waktu untuk saya gunakan menulis. Jika dilakukan prosentase, menjelang mau tidur, kemudian selesai subuh, itu waktu yang banyak saya gunakan untuk menulis.
Terlebih, Pak Slamet, pagi-pagi sebelum pukul 07.00 Wib, telah men-share tulisan yang sudah diposting di personal website-nya. Agar tidak mau kalah, dan tidak merem sehabis subuh, jalan menulis saya pilih.
Akhirnya, buku ini ikhtiar kecil ajakan saya kepada diri saya untuk tidak sekadar menjalani Ramadan. Tetapi menikmatinya, menghayatinya, dan mengisinya dengan ragam amal yang terbaik.
Jika ajakan yang saya tujukan untuk diri saya masuk akal, silahkan dengan sadar ditranmisikan kepada pembaca. Cukup itu saja, full isinya bisa beli buku saya. Ha ha ha! Klik, materi Bedah Buku ARKA, bila ingin tahu pengantarnya.