Kegiatan kemahasiswaan –BEM, DPM, UKM– akan menguap begitu saja bila tidak ter-record secara baik. Apalagi, di era digital saat ini. Secara pragmatis, media sosial menjadi nomor wahid informasi agenda dan pasca kegiatan.
Penggunaan media sosial sebagai pengawet kegiatan –di Unugiri– pasca kegiatan masih dominan. Telaah saya sementara, ada celah kebingungan ke mana akan mengirimkan berita kegiatan.
Mau dikirimkan ke media online ternama –blokbojonegoro dan lainnya misal– media tersebut akan melihat nilai penting informasi yang dibuat. Meminjam bahasa Rahmat Patuguran dan Saroni Asikin (2020: 38) dalam buku Jurnalistik Dasar: Landasan Teoritis dan Panduan Praktis, terdapat 9 unsur berita yang dibuat itu bernilai.
Mulai dari punya kepentingan untuk publik, berdampak, aktual, ketokohan, kedekatan, konflik, human interest, keunikan, hingga yang berhubungan dengan hal-hal tabu.
Pada posisi ini, pengurus atau yang diamanati di lingkup orwama bisa sebenarnya mengirimkan rilis kegiatan ke pers mahasiswa (persma). Kehadiran persma di sebuah kampus selain sebagai wadah belajar jurnalistik, juga publikasi kegiatan sesama ormawa.
Selain dikirimkan kepada persma, pengurus ormawa juga bisa mengirimkan kepada website yang dimiliki oleh dosen. Salah satunya adalah usmanroin.com.
Kehadiran usmanroin.com adalah sarana meluapkan ide, gagasan, dari sang pemilik, serta wadah informasi kegiatan pendidikan di dalam maupun di luar kampus. Alhasil, bila pengurus ormawa memiliki kegiatan, kemudian bingung mengirimkan hasil liputannya, kirim saja ke usmanroin.com.
Belajar Nulis
Hal pokok mengapa kegiatan apapun dari ormawa perlu didokumentasikan via digital, agar terdapat rekam jejak masa mendatang yang bisa ditelusuri. Menjadi pengurus ormawa, tentu tidak akan menjabat selamanya.
Jika kemudian terjadi reorganisasi, kemudian tidak ada jejak kemasan kegiatan seperti apa detailnya, tentu akan memusingkan pengurus yang mendapat mandat mengemas kegiatan selanjutnya.
Beda ketika kegiatan apapun ormawa diawetkan berbentuk berita dan publis di website. Tentu ketika sudah purna, mandataris pengurus –selanjutnya– bisa membaca jejak digital bagaimana mengemas kegiatan. Ia tidak akan mengalami kebingungan, oleh sebab tersedia literatur bentuk kegiatan.
Manfaat yang lain, pengurus ormawa yang membidangi ini –kominfo– atau apalah nama yang dipilih, melalui website dosen yang punya latar belakang jurnalistik, tentu bisa dijadikan sarana belajar (sinau) nulis berita.
Wujudnya, dari rilis yang dikirim oleh bidang kominfo dan masih perlu sentuhan editing sebagai misal, dosen yang mengelola website akan membantu membetulkan sistematika kepenulisan.
Dari mana si dosen membantu? Jawabnya, adalah setelah hasil liputan atau berita yang dikirim terpublis. Pengurus kominfo ormawa bisa melihat bagaimana lead atau pendahuluan setelah mendapat editing.
Kemudian isi, mana saja kata hingga kalimat yang dibung agar memberi kejelasan informasi to the point. Bukan malah berbelit-belit. Selain alur isi yang padat, juga bagaimana ending judul yang diusulkan sebelumnya. Mana yang dibenahi hingga mana yang akhirnya diganti dengan diksi lain.
Jika ada dosen yang membuka website yang dimiliki sebagai sarana belajar agar terampil menulis berita, pengurus ormawa baiknya mengambil momentum tersebut untuk banyak belajar.
Terlebih, kecakapan menulis –tidak terkecuali berita– perlu dilatih tidak hanya sekali. Tetapi, harus diulangi berkali-kali, bisa, dan akhirnya terbiasa. Pada proses ‘terbiasa’ inilah kalau boleh saya katakan bahwa teman-teman telah mengguasai penulisan berita.
Oleh karena telah menguasai penulisan berita, teman-teman ormawa akan mudah, cepat dalam membingkan informasi menjadi berita dan tayang di media.
Akhirnya, mumpung usmanroin.com membuka kiriman berita seputar pendidikan, manfaatkan dengan mengirimkan rilis kegiatan plus foto ke email roinusman@gmail.com.