Jadwal membaca menjadi perhatian saya. Alhasil selepas subuh, saya gunakan untuk membaca meski cukup satu jam. Selain itu, sebelum tidur juga saya gunakan untuk membaca buku meski hanya 30 menit.
Waktu lain biasanya saat kampus libur. Yakni, Sabtu dan Ahad. Dua waktu ini biasanya durasi waktu membaca lembih lama. Setengah hingga satu hari membaca buku yang saya beli, bisa saya lakoni.
Meski baru –diri sendiri– yang rutin menjadwalkan membaca, setidaknya saya bangga sebab telah memiliki kebiasaan meski kecil. Apalagi, kuantitas anggota keluarga menjadwalkan membaca jumlahnya kecil dari yang sudah.
Kadang saya bertanya, apakah salah bila saya, panjenengan, menjadwalkan membaca harian selama di keluarga?
Ketika jawabannya ‘tidak’, berarti membaca tidak ada masalah dengan saya atau panjenengan di lingkungan keluarga. Anehnya, mengapa membaca di lingkungan keluarga nihil!
Bila jawabnya adalah ‘malas mikir, sudah tua’ sebagai misal, cobalah sesekali pergi ke toko buku. Buku-buku yang dipajang di rak sekarang banyak menyajikan bahasa yang mudah dipahami.
Maka, agar tidak membebani otak dalam mikir oleh sebab usia, buku-buku bergenre tips, motivasi atau self-improvement bagi saya cocok untuk dibeli.
Kebutuhan Keluarga
Selain alasan di atas, bilamana muncul alasan mendahulukan kebutuhhan keluarga juga masuk akal. Tetapi sekali lagi, buku-buku sekarang varian harganya macam-macam. Kalau buku baru memang harganya masih hight (tinggi). Alias mehong.
Tetapi, kini toko online banyak menjual buku-buku yang murah juga. Apalagi pas promo oleh momentum tertentu –kemerdekaan, ulang tahun penerbit dan lainnya– harga yang dibandrol bisa terjun bebas.
Pada saat inilah soluasi membeli buku dengan harga murah meriah, tidak menjadi kendala ‘pemenuhan’ kebutuhan keluarga.
Alasan lain, ada juga yang berkilah ‘membacakan bisa lewat HP’ sebagaimana sering kita dengar. Memang betul seiring teknologi yang berkembang maju, gadget yang kita miliki bisa digunakan untuk membaca e book, e jurnal, informasi berita dari media online, hingga pengetahuan lain dari berbagai website yang tersedia.
Hanya saja, kala membaca lewat gadget, bila kesungguhannya kurang akan terganggu oleh notifikasi media sosial. Ketika ada WhatsApp sebagai misal, maka mata kita akan ngintip dari siapa, perihal apa dan aneka tanda tanya yang mendesak kita untuk segera membuka.
Jika kemudian ‘dibuka’ konsentrasi membaca jadi merana. Semakin chat satu dibalas, chat lain akan muncul dan terdorong untuk segera butuh dibalas juga.
Selain chat, tik-tok, instagram, juga menjadi penyebab pengalih aktivitas baca. Dari selesai chat sebagai misal, akan merembet ke media sosial yang inginnya sebentar, namun lama-lama menjadi larut hingga berjam-jam.
Alhasil, membaca di gadget bukannya e book, e jurnal dan seterusnya. Tetapi, asyik membaca status dan menonton update short video media sosial sambil senyam-senyum sendirian.