Mengapa orang tua kini ‘jarang’ membelikan buku kepada anak? Buku, seperti di-skip untuk dihilangkan menjadi harta karun penting yang diwariskan. Jarang pula anak diajak ke toko buku. Tetapi kalau di supermarket, hampir saben minggu.
Jika perilaku di atas terjadi di sekeliling kita, membaca buku dari ruang keluarga menjadi nihil. Luput dari penjadwalan. Yang dominan, konten media sosial jadi menu harian anggota keluarga untuk dilihat, scroll hingga waktu yang tak terbatas.
Sekelumit potret di atas, perlu menjadi renungan bersama bila membaca harus mendapat tempat di dalam keluarga. Orang tua yang sudah melek pendidikan –pernah merasakan bangku sekolah-kuliah– tentu dari sisi wawasan dan keinginan pasti mencita-citakan anaknya labih baik.
Jika demikian adanya, keluarga juga perlu memiliki semangat diri bila kehadirannya menjadi bagian dari lingkungan pendidikan –setelah sekolah dan juga masyarakat. Karena menjadi salah satu lingkungan pendidikan, bapak dan ibu tidak lantas apatis terhadap perwujudan belajar di dalamnya.
Bentuk tidak apatis, orang tua bisa merumuskan aturan belajar di lingkup keluarga. Bapak ya belajar, ibu ya belajar, hingga kedua aktivitas tersebut terlihat oleh si anak, kemudian meniru dan menemukan bila di keluarganya kini terdapat waktu belajar bersama.
Tidak Sekadar ada PR
Jika di dalam keluarga orang tua sudah meneladankan belajar salah satunya dengan membaca, bagi anak belajar tidak sekadar terdapat ulangan yang familiar disebut pekerjaan rumah (PR) saja. Ada dan tidaknya PR, menjadikan membaca –sebagai perwujudan belajar harian– terkondisi di lingkup keluarga.
Hadirnya ayah, ibu, membaca buku setiap hari, selain petunjuk informasi kepada anak dalam hal belajar; juga bukti belajar tidak kenal usia. Orang tua melalui buku yang dibaca akan kaya secara pengetahuan.
Melalui pengetahuan yang didapatkan, proses mengedukasi anaknya berlandaskan ilmu. Bukan karena emosi yang itu lebih kepada ‘perintah’ belajar kepada anak, sementara dirinya sendiri luput dari perilaku serupa.
Meski sudah purna belajar dari bangku formal, dalam hal membaca keluarga tidak perlu mandeg. Di dalamnya kudu tetap ada waktu terjadwal untuk membaca kepada semua anggota tanpa terkecuali. Sebab, membaca itu bagian dari cara merawat otak agar tetap waras.
Perihal pentingnya pengetahuan, Mua’adz bin Jabal Ra yang dikutip Imam Al-Ghazali (2026: 41) mengatakan ‘Sesungguhnya ilmu adalah teman akrab dalam kesendiriaan, sahabat dalam kesunyian, petunjuk jalan kebingungan, dan nasihat di tengah tali persahabatan.
Merenungkan ilmu sebanding dengan berpuasa, mempelajarinya sebanding dengan salat malam.
Dengan ilmu Allah disembah, dengan Ilmu Allah diakui keesaan-Nya, dan dengan ilmu pula Allah ditaati. Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal mengikuti ilmu. Dalam ilmu terdapat kemuliaan dunia dan kebahagiaan akhirat.’
Mari kita sedikit membayangkan, jika sebagai suami, istri, memberi teladan membaca di keluarga, tentu sang anak akan ikut juga –membaca. Terlebih, bila kemudian orang tua rutin mengajak anak selain ke supermarket juga mampir ke toko buku untuk membeli buku baru.
Kini, seiring era banjir informasi, ada saja alasan orang tua tidak membelikan buku kepada anaknya. Kan sudah bisa dilihat melalui gadget! Begitu bila boleh saya kutipkan alasan yang terlontar.
Padahal ketika anak-anak lengket dengan gadget, terlontar pula kalimat ‘hapenan wae’. Anak, tambah bingung bukan!