Bisa mengaktifkan patner kembali menulis lalu di-share melalui group ‘Pena Blogger’ bagi saya suatu kebanggaan. ‘Menulis’ yang dicita-citakan orang banyak, tetapi melalui group ini telah nyata dilakukan.
Group ini tidak muluk-muluk sebenarnya. Tulisan kudu panjang, tidak. Harus genre opini dan menolak cerita, juga tidak. Yang penting menulis. Saling berlomba melahirkan tulisan bikinan sendiri, di tengah banjir informasi dan kemudahan menanyakan apa saja kepada asisten otak buatan atau AI.
Terlebih kini, sarana untuk menulis sungguh mudah sekali. Di gadget, bisa. Tepatnya melalui aplikasi catatan (notes) yang tememplek di gawai (sebutan lain gadget).
Bisa juga melalui wps office. Tetapi, bila menulis di gadget saya sering menggunakan aplikasi notes.
Menulis dengan perangkat gadget tentu bisa dilakukan di mana saja dan sesempit apa pun waktunya. Sebagai misal, di sela-sela rapat, tiba-tiba muncul ide. Maka cara cepat menyaut ide adalah dengan langsung mengetik di notes.
Ketika ide tulisan sudah tersimpan, pengembangannya bisa dilakukan sebelum tidur, atau setelah beristirahat. Ataupun pagi ketika matahari menyinari bumi, dari malam yang perlahan-lahan pergi.
Selain menggunakan gadget, laptop juga membantu mempermudah proses menulis. Hanya saja, kehadiran laptop untuk menulis akan lebih baik bila dilakukan pada ruang yang ada mejanya. Atau di kursi yang ada sandarannya.
Akan beresiko plus tidak nyaman bila menulis di laptop berada di sembarang tempat. Bisa-bisa, menulis batal oleh sebab laptop ngguleng karena tempat sandarannya tidak bisa menjamin keamanan.
Website Sendiri
Terhadap tulisan yang selesai, kami juga tidak merisaukan ke mana tulisan dialamatnya. Sebab, saya dan Pak Slamet telah memiliki website sendiri. Jadi, mau dipublis kapan pun, suka-suka kita mudahnya.
Beda kala kita mengirimkan karya tulis kepada rekanan media cetak hingga online. Menunggu ditayangkan oleh redaksi, akan menjadi aktivitas menjenuhkan. Sampai-sampai, muncul pertanyaan ‘mengapa kok belum di tayangkan?’ akan menjadi ketidaktenangan diri.
Hanya saja, yang membuat pasang-surut menulis di website pribadi adalah rasa kurang percaya diri terhadap wadah digital yang dimiliki. Itu jika dibandingkan dengan media online ternama, lebih ada rasa ‘bangga’.
Sikap seperti itu, tentu perlu dibuang jauh-jauh. Menurut Muhammad bin Yusran dalam bukunya Islam Itu Asyik, Dunia Kita yang Terlalu Berisik (2026: 3) dikatakan, menulis yang diniatkan untuk mensyukuri nikmat ide yang dikasih Allah Swt lebih menenangkan jiwa, daripada sekadar menuruti validasi orang lain.
Artinya, dibaca tidak dibaca orang lain, bukan kemudian menyurutkan semangat menulis. Yang penting hari ini menulis. Besuk menulis. Besuknya lagi menulis, menulis, dan menulis, begitu seterusnya.
Kegunaan jangka pendek, ide yang muncul terawetkan. Kemudian jangka panjangnya, mampu mengelompokkan ide pikiran disatukan secara tematik berwujud buku. Alhasil, berbekal menulis keseharian, lahirlah karya monumental tahunan.