‘Mengapa saya perlu membaca buku baru? Jawabnya, untuk sedikit memberi ruang sehat, jeda dari gadget.’
Pertanyaan kecil ini, meski tujuannya kepada saya, juga bisa dialamatkan kepada Anda. Apakah Anda perlu membeli buku baru! Maka, jawabannya bisa Anda pertegas sendiri mengapa Anda perlu membelinya.
Sebagaimana jawaban di atas, bila saya membeli buku baru untuk memberi ruang sehat dari gadget. Bicara ‘ruang sehat’ untuk diri, kadang kita acuh tak acuh. Dari pagi ketemu pagi lagi, gadget lengket.
Jika itu dilakukan, mata apa tidak perih oleh radiasi layar gadget. Itu ruang tidak sehat yang bisa kita lihat secara nyata di sekeliling kita. Berikutnya, berlama-lama dengan gadget, menjadikan diri jadi penikmat. Pasif. Interaksi sosial pun menurun.
Berbagai ruang tidak sehat tersebut, tentu perlu diimbangi untuk menciptakan ‘ruang’ sehat. Alternatifnya adalah dengan membeli buku, lalu dibaca sejenak dalam sehari. Sehingga gadget tergeletak. Tidak lengket sebagaimana jaring laba-laba di film Spiderman.
Buku Baru
Dengan alasan itulah, setiap bulan saya berusaha untuk membeli buku baru. Terkini –oktober 2026– saya membeli buku karya intelektual NU, Gus Nadir, berjudul Ketika Qur’an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa: Tafsir Naratif Inspiratif Juz ‘Amma di Gramedia Bojonegoro.
Provokasi –membeli buku– memang saya lakukan. Salah satunya saya kirim foto sampul buku kepada Pak Slamet, anggota dari group menulis Pena Blogger yang saya bentuk.
Untuk menjatuhkan pilihan bukunya Gus Nadir, saya sempat muter-muter dari rak ke rak. Awalnya, ingin membeli karya Rutger Bregman berjudul Moral Ambition. Sempat saya tenteng juga bukunya Greg McKeown Effortless: Karena tak Semua Harus Sesulit Itu.
Bahkan karyanya Frédéric Gros berjudul Filosofi Jalan Kaki atau A Philosophy of Walking. Akhirnya, setelah mengalami muter-muter sembari ngadem, saya memutuskan untuk membeli bukunya Gus Nadir.
Ketika sampai di rumah saya buka plastinya. Buku terbit November 2025, di Juni 2026 ini sudah cetakan yang kesembilan dengan tebal 326 halaman. Adapun kini, saat tulisan ini saya publis, membacanya sudah sampai di halaman 53.
Saat di toko buku, melihat baku baru yang dipajang, seperti ingin saya ‘beli’ semua. Semangat membaca, menulis, hingga niat untuk melahirkan buku baru hadir.
Buku baru seakan menumbuhkan spirit baru, begitu banyak pengetahuan terkini yang lahir, dikemas dalam bahasa yang mudah, dan saya belum mengetahuinya.
Atas asas ‘belum’ mengetahui inilah, setiap bulan saya rutinkan membeli buku walau satu. Bahkan, pada promo awal bulan 10:10, saya membeli 10 buku yang kebetulan murah, pakai banget, melalui online shop.
Tirakat
Bila buku sudah saya beli, jalan tirakat saya lakukan. Tirakat yang saya maksud, adalah mengurangi jajan di warung. Bila soal makan kala di kampus, saya sampai mbontot. Membawa bekal masakan istri untuk mengurangi hingga tidak jajan sama sekali di warung.
Tirakat ini saya pilih, agar uang jajan bisa saya saving untuk membeli buku baru lagi. Karenanya, lebih baik tidak jajan daripada tidak bisa membeli buku. Itu filosofi rodok koplak yang saya pilih. Semoga Anda tidak terpengaruh.
Selain melakukan saving uang jajan agar bisa membeli buku, jalan yang lain biasanya saya mengumpulkan honor dari menjadi khotib Jumat. Atau, kala diminta mengisi materi oleh organisasi kemahasiswaan dan UKM di kampus.
Jalan-jalan tikus seperti inilah yang saya lakukan, agar saya ‘tetap’ memiliki koleksi buku pribadi.
Jangka panjang, rumah yang sedang saya bangun, rencana akan saya pergunakan sebagai rumah literasi. Perpustakaan keluarga. Hingga sarana menerbitkan buku, sebab telah memiliki penerbit sendiri.