Kala berangkat tahlil dan berkendara di jalan raya menuju Sumberrejo, terlihat di depan saya orang dengan enteng-nya membuang bungkus rokok dari jendela mobil. Untung saja, kala melempar bungkus rokok, orang yang lagi berhenti oleh isyarat lampu merah di sebelahnya, tidak terkena lemparan anonim (tanpa nama).
Pikiran saya kemudian merespon, ada pelajaran berharga yang bisa saya petik. Peristiwa itu membuat saya ingin melahirkan tulisan. Mengapa perilaku membuang sampah di ruang sosial ‘seperti’ tidak sesuai ekspektasi saat pembelajaran di kelas?
Coba kita simak kala dahulu guru memberi pembelajaran, ‘anak-anak, menjaga kebersihan –dalam hal ini lingkungan– adalah perintah Allah. Jadi, buanglah sampah di tempat sampah’.
Ketiga guru memberi pelajaran seperti itu, lalu peserta didik menjawab ‘iya bapak atau ibu’, berarti secara pemahaman (kognitif) clear. Bahkan, aspek sikap juga dibimbingkan guru kala ada sampah yang tercecer. Guru ambil, lalu memasukkan di tempat sampah.
Belum lagi kegiatan bersih-bersih sekolah/madrasah yang rutin dilakukan, tidak lain untuk mengasah keterampilan bahwa kebersihan itu perlu dijaga. Alhasil, karena ruang sekolah/madrasah membudayakan hidup bersih, maka di mana pun kalau ada sampah yang tercecer akan diambil.
Tetapi, yang terjadi di ruang sosial tidak sebagaimana yang kita idam-idamkan. Contoh membuang bungkus rokok melalui jendela mobil, menunjukkan perilaku unrespect terhadap lingkungan menganga di muka umum.
Di sinilah, terdapat perbedaan antara apa yang didapat oleh peserta didik, tidak selaras dengan perilaku sosial di masyarakat.
Mudah Ditiru
Jika perilaku di ruang sosial yang salah dan ‘vulgar’ dilihat peserta didik, dalam hal ini generasi muda, dia akan mudah meniru. Ketika ditanya, mengapa dia melakukan hal itu? Jawabnya, karena dia melihat orang di sekelilingnya bebas membuang sampah. Tidak pernah ditegur. Tidak pula dikasih punishment (hukuman) atas perbuatannya.
Atas telaah kritis kecil ini, sepertinya kita perlu melakukan refleksi bersama.
Pertama, kepada orang dewasa. Ingatlah bila keberadaan kita ini menjadi cerminan generasi muda. Oleh sebab tercermin, kata Nashif Musthafa Al-Ghiffari dalam bukunya berjudul Dahulukan Adab Sebelum Ilmu (2026: 32), kita diminta untuk mengkulinakan perilaku terpuji. Membuahkan kebaikan dalam laku keseharian, sehingga dari buah kebaikan tersebut akan menular kepada sesama.
Memang sih, sebagai orang dewasa kita tidak mengajarkan secara verbal (lisan) perilaku terpuji dan tidak terpuji. Tetapi, melalui sikap dalam hal ini membuang sampah di tempatnya, atau, melempar begitu saja sampah melalui jendela mobil; secara tidak langsung memantik orang lain mencontoh. So, perilaku kita jadi cerminan orang lain.
Kedua, kepada generasi kini. Bila ada perilaku orang dewasa yang melakukan hal tidak terpuji, jangan kemudian ditelan mentah-mentah dengan meng-amini begitu saja. Artinya, mengikuti perilaku tanpa melakukan selektif.
Dunia nyata meminjam bahasa Fathul Wahid (2020: 122) disebut laboratorium hidup (living labs), adalah ruang bajir perilaku ‘baik dan tidak’ bercampur manjadi satu. Seperti sedang dalam pergulatan, mana yang mengungguli hingga tranding meminjam bahasa medsos.
Tugas kita sebagai generasi now adalah menjaga integritas untuk berusaha sepemahaman kita, tetap di jalan yang lurus. Berperilaku baik, tidak tertular keburukan orang lain.
Hal yang lain, kita bisa mengambil peran untuk melakukan perubahan pada wilayah kognitif –sebagaimana yang penulis lakukan– dengan menyuguhkan gagasan reflektif, agar ada upaya muhasabah kolektif bagi yang membaca.
Siapa tahu, orang dewasa yang saya maksud membaca. Kemudian tersadar, alhamdulillah. Semua atas karunia Allah Swt.
Bila bacaan ini sekadar di skip, ya tidak apa-apa. Wong itu pilihannya. Saya sekadar menjalankan sunah Kanjang Nabi Muhammad Saw, bilamana kita melihat kemungkaran atau perilaku buruk secara nyata, beliau memberi panduan untuk segera meresponnya. Diantaranya, dengan kekuasaan, lisan, dan hati.
Refleksi ini adalah bentuk respon dari ‘lisan’. Yakni, memberi nasihat bijak melalui bahasa tulis. Kaidahnya saya mengambil kalam sastrawan Perancis, Jules Renand dalam Naning Pranoto (2015: 21-22), bila tulisan adalah cara terbaik untuk berbicara tanpa terganggu.