Menikmati tulisan Fathul Wahid, pribadi yang pernah menjadi orang nomor satu –Rektor– di Universitas Islam Indonesia (UII), dalam banget pesannya. Pesan itu saya dapatkan saat membaca e-book Mendesain Universitas Masa Depan (2020: 119).
Tulisan-tulisan pendek yang saya baca renyah. Meminjam bahasa Agus Magelang, tulisannya menjadi enak dan renyah seperti krupuk. Kalimat itu saya dapatkan kala lihat promo kelas menulis online yang gencar di ig-nya.
Beliau –Fathul Wahid– selalu membuat catatan kala diminta sambutan. Entah momentum kampus, hingga acara sekelas Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah (2020: 81). Satu kata, keren.
Yang membuat saya menyematkan frasa keren, adalah proses membuat catatan atau bisa diartikan dengan ngemenke nulis. Meski beliau pejabat nomor 1 –kala itu di UII– aktivitas menulisnya tidak mandek. Spirit inilah yang membuat saya memiliki panutan. Sesibuk dan sepopuler orang nomor satu, ide di kepala senantiasa diterjemahkan menjadi tulisan. Renyah pula.
Tulisan yang renyah sendiri, memiliki arti yang mudah dipahami dan ringan. Itu bila kita ditengok sebentar di KBBI. Style itulah yang saya dapatkan dari beliau Pak Wahid dan ingin saya pelajari.
Terbitkan Buku
Tema-tema sederhana, dan berbobot tidak kemudian dibiarkan berserakan. Tetapi, diterbitkan menjadi buku. Tidak ayal, e-book-nya Pak Wahid selama menjadi Rektor UII sudah saya koleksi semuanya.
Mulai dari Mendesain Universitas Masa Depan, Sayap Kemajuan Universitas, Manajemen Universitas di Tengah Turbulensi, Merawat Misi Universitas, Kesadaran Kolektif Perguruan Tinggi, Perangai Ilmiah Warga Kampus, Menjaga Akal Sehat Kampus, dan Kampus Manusia.
Yang bisa saya petik adalah, proses untuk melahirkan buku bisa dikompilasi dari ruang aktivitas terdekat. Pekerjaan, hobi. Ini dua sampel yang bisa saya berikan.
Terbaru, bukunya Ira Mirawati berjuduul Step by Step Skripsimu (2025: iii), setelah saya baca, juga lahir dari pengalaman empiris membimbing.
Ibu Ira mengungkap dengan gamblang, bila kelahiran bukunya dari proses lama membimbing skripsi mahasiswa, mulai dari kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh mereka.
Jika demikian, ruang untuk melahirkan karya itu terbuka lebar. Kemudian, dekat. Tidak kemudian meneropong yang jauh sebagaimana pribahasa ‘Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’.
Kemudian buku karya Ricard Carlson (2025: xviii) berjudul Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar –versi judul Indonesia– juga lahir kala sang penulis 10 tahun menghadapi klien. Beliau membantu klien menghadapi stres, masalah hubungan-pekerjaan, kecanduan, hingga frustasi.

Satu contoh lagi, buku saya sendiri Agar Ramadanmu Kaya Amal (2026: 3), juga lahir dari perenungan (refleksi) selama satu bulan Ramadan bagaimana agar produktif dan enjoy menikmatinya.
Alhasil, dalam sehari saya menuliskan satu refleksi pendek, yang kemudian saya kirim di group khusus ‘Pena Bloger’ yang anggotanya cukup tiga. Saya, Pak Slamet Widodo yang merupakan Waka Akademik dan Guru di MTs Negeri 3 Bojonegoro, dan M. Ainun Najib alumnus Prodi PAI Unugiri dari Tuban.
Perihal buku ini, rencana akan di bedah menyemarakkan hari santri nasional (HSN) akhir Oktober ini. Oleh siapa? Perpustakaan Unugiri bekerjasama denga PC Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Bojonegoro.
Bagi yang ingin pre-order buku saya, bisa menghubungi penerbit Pena Abadi, narahubung Dodo, melalui nomor 087-8678-4924. Melu promo ya gaes ya.