Karya tulis yang berserakan, kini saya tata biar ngelumpuk jadi satu. Itulah yang mendasari mengapa personal website (pw) usmanroin.com saya buat. Perihal ini, saya punya pengalaman berharga. Kala tulisan saya dahulu tayang di portal online p…. –sebut huruf awal saja– lalu sang pemilik ‘ada masalah internal’, media yang dimilikinya juga ikut gulung tikar.
Oleh sebab itulah, tulisan saya yang berharga dan sampun publish, tidak dapat diakses. Untung saja, saya masih memiliki file-nya.
Usmanroin.com, ini saya hadirkan di tengah banyak generasi demen menikmati sebab terampil, punya pemahaman luas, dan hidup di era perkembangan digital. Meminjam bahasa Beresfod Research, utamanya Gen Y (milenial) yang lahir 1980-1995, Gen Z 1996-2010, serta Gen Alpha yang lahir 2011-sekarang.
Padahal menurut saya, kemampuan mencipta itulah yang kudu ditumbuhkan generasi kini. Iya, bila konten yang dinikmati –ditonton, scroll– ‘tidak berbahaya’; kalau kemudian ‘berbahaya’ apa tidak berdampak secara psikis buat pertumbuhan mereka!
Sebagaimana pelajaran, seseorang yang memiliki portal tidak akan mengasih pemberitahuan (notification) bila portal yang dimiliki ‘akan’ ditutup. Yang sudah-sudah, moro-moro tidak aktif begitu saja. Beda bila kita memiliki pw sendiri. Karena ia –pw– mem-publish karya tulisan kita sendiri. Karenanya, ia akan dirawat dengan baik.
Wujudnya, domain atau alamat unik yang digunakan untuk mengakses sebuah website di internet, akan selalu diperpanjang bila habis. Kemudian, menulis sebagai keterampilan diri akan senantiasa dihasilkan.
Sebab, saya menjadi tidak bingung ke mana harus mengirim bilamana karya tulis saya jadi. Tinggal copy-paste pada dashboard, editing, dan publish. Ketika telah publish, kita bisa men-share melalui media sosial.
Inilah yang kemudian saya sebut sebagai mencipta. Kemampuan menulis yang saya miliki, saya gunakan untuk menghasilkan tulisan terbaru.
Kala menulis ini, tidak sengaja mendapat postingan instagram-nya Prof. Nur Syam. Keterangan foto (caption), mengetik di depan laptop yang ter-upload di ig. Ditambah penjelas, bila beliau baru meng-upload tulisan terbaru pada pw yang dimiliki.
Pelajaran berharga yang bisa saya dan pembaca ambil, di mana pun tempatnya, beliau menyempatkan menulis. Meski, terdapat tugas untuk menguji salah satu kampus di Jawa Timur. Adapun ke mana dikirim atau publish ketika tulisan telah rampung-kan, beliau tidak kuatir. Sebab, sudah ada kanal khusus nursyam.uinsby.ac.id.
Sebagaimana beliau –Prof. Nur Syam– kala tulisan tersebut dihasilkan dan ter-publish, perasaan lega muncul. Hal itu sama dengan yang saya rasakan. Kepuasan tetap produktif menulis senantiasa dilakukan sebagai ‘terapi’ untuk melepaskan gagasan-ide dari tekanan batin. Itu bila saya meminjam bahasa Naning Pranoto (2015: 23), dalam buku Writing for Therapy.
Bahkan sastrawan Perancis, Jules Renand, dalam buku tersebut (2015: 21-22) mengatakan bila menulis bagi dia adalah cara terbaik untuk berbicara tanpa terganggu. Sementara sastrawan AS, Henry Miller, mengatakan bila menulis adalah bentuk penghargaan untuk diri sendiri.
Jika demikian, hadirnya pw adalah wadah menyehatkan psikis. Uneg-uneg yang menyumbat perasaan saya, tercurah tuntas. Tempat penampungan uneg-uneg tersebut, meminjam bahasa Tiago Forte (2026: xxii) dalam bukunya Building a Second Brain: Metode Efektif Mengelola Kehidupan Digital agar Lebih Produktif dan Kreatif, disebut second brain atau otak kedua.
Yaitu, arsip digital dari ingatan, ide, dan pengetahuan paling berharga yang bisa membantu untuk melakukan pekerjaan, menjalankan bisnis, dan mengelola hidup tanpa harus menyimpan setiap detail di otak kepala kita.
Sekali lagi, meski sekadar blog, website, dan itu milik sendiri; layak untuk dijadikan tampungan karya tulis terbaik kita.