![]() |
| LOGO-Hardiknas 2023. |
usmanroin.com, HARI-ini, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kemenristekdikti sebagaimana Surat Nomor 12811/MPK.A/TU.02.03/2023 tentang Pedoman Peringatan Hardiknas Tahun 2023 menetapkan tema “Bergerak Bersama Semarakan Merdeka Belajar”.
Bagi penulis, tema yang diangkat penuh filosofis. Artinya berhasilnya pengelolaan pendidikan, semua komponen harus bergerak bersama mewujudkan merdeka belajar. Jangan ada yang macet salah satu. Karena hal itu bisa menghambat cita-cita untuk memajukan lembaga pendidikan.
Stakeholder pendidikan sudah semestinya paham tema tersebut. Artinya, yayasan, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan orang tua harus ikut bersama-sama menyukseskan berjalannya program pendidikan.
Jika salah satu terhambat, slow respond atau telat informasi, tentu itu akan menahan lajunya lembaga pendidikan untuk survive, kemudian bisa setara dengan lembaga pendidikan tetangga, mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, nasional, hingga internasional yang sudah maju.
Seiring hadirnya Hardiknas, bagi penulis tigal hal poin yang perlu dilaksanakan oleh stakeholder pendidikan.
Pertama, semangat berkarya. Dalam hal ini meminjam KBBI online karya bisa dimaknai hasil perbuatan, buatan, ciptaan (terutama hasil karangan).
Bagi penulis, karya yang bisa diciptakan oleh stakeholder pendidikan adalah hadirnya sumber informasi lembaga pendidikan digital.
Jika lembaga pendidikan belum memiliki blog, website, hingga sosial media (sosmed) sebagai misal instagram, facebook, youtube, tik-tok dan sebagainya, kini saatnya hal itu diwujudkan.
Perlu diketahui hadirnya blog, website dan sosmed tersebut dalam rangka mengkomunikasikan keberadaan lembaga pendidikan. Terlebih, hari ini hampir dipastikan banyak orang mencari informasi lembaga pendidikan melalui gadget.
Jika kemudian blog, website, dan sosmed lembaga pendidikan belum dibuat tentu keberadaan sekolah tersebut akan terabaikan calon peserta didik baru.
Selain itu, blog, website dan sosmed kenapa perlu dibuat oleh lembaga pendidikan agar portofolio kegiatan lembaga pendidikan bisa terarsip rapi.
Jika dahulu paper (kertas) menjadi alat utama pengarsipan, seiring dengan digitalisasi zaman portofolio kegiatan-kegiatan lembaga pendidikan bisa diarsip berbasis digital. Bahkan, bentuknya bisa lebih keren, full colour dan bisa dibuat berdasarkan selera kita sebagai pengelola lembaga pendidikan.
Adapun bagi yang telah memiliki, rajin meng-update blog, website, dan sosmed adalah cara bijak untuk mempertahankan lembaga pendidikan eksis era digitalisasi zaman.
Kedua, refleksi tantangan. Pada tahap ini, lembaga pendidikan perlu memiliki persiapan apa guna menghadapi tantangan era mendatang Pendidikan.
Jika fokusnya ini, mau tidak mau lembaga pendidikan kudu memiliki semangat literasi yang kuat bagaimana membangun lembaga pendidikan yang baik, progresif, dengan tidak meninggalkan nilai luhur yang menjadi ciri khas.
Stakeholder lembaga pendidikan harus giat browsing–browsing kiat mengelola lembaga pendidikan yang sukses.
Selian itu, juga bagaimana mempercantik sarana prasarana lembaga pendidikan yang ada agar diminati peserta didik, hingga upaya agar lembaga pendidikan tetap memiliki pendanaan yang mengalir untuk memberikan intensif yang baik kepada pendidik.
Ketiga, berani mengambil langkah. Yang ketiga ini adalah semangat personality untuk siap menjalankan amanah yang diembakan.
Meminjam bahasa Rizal Badudu dalam bukunya Character Excellence (2019:126), prinsip berani gambaran sederhanya secara peribadi kita memiliki keyakinan kuat untuk “bisa” dalam “siap bertindak”.
Jika sebagai misal, ada pendidik ditunjuk untuk ikut mewakili lomba, ia siap lahir batin. Karena yang utama adalah ikut dan tampil dengan sebaik-baiknya. Urusan menang atau kalah, itu adalah wewenang dewan juri yang memutuskan. Yang utama adalah berani tampil dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu.
Pada sisi yang lain, bila ada yang ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab kepanitian, dengan senang hari dan ikhlas berani menjalankan. Karena, hal itu bisa dijadikan sarana pembelajaran untuk mengemas kegiatan dengan baik, inovatif, dan kreatif.
Jika kemudian ada kekuarangan, hal itu lumrah. Karena, keberadaan kegiatan tersebut bisa diperbaiki pada kesempatan berikutnya.
Terhadap tiga hal di atas, melalui peringatan Hardiknas Tahun 2023 ini, penulis berhadap semoga bisa memberi semangat kecil kepada stakeholder pendidikan untuk senantiasa semangat ngopeni lembaga pendidikannya masing-masing.
* Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
