![]() |
| PHOTO-by charlesdeluvio on Unsplash |
usmanroin.com, MEI–Day atau Hari Buruh International jatuh setiap tanggal 1 Mei. Nampak kehadirannya, selalu dikonotasikan dengan “demo”. Entah itu terkait dengan pembelaan hak-hak kepada buruh, mulai dari upah yang minim. Hingga yang terbaru hadirnya UU Cipta Kerja yang dirasa “tidak” memihak kepada mereka.
Terhadap hari buruh, penulis juga buruh. Istilah buruh sendiri dalam KBBI online adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah; atau bisa juga diartikan dengan kaum pekerja. Bagi penulis, hadirnya hari buruh perlu kita jadikan refleksi bersama apakah kita sebagai pekerja sudah menjadi pekerja yang baik?
Pekerja yang baik tentu memiliki kinerja baik. Contoh, bila dia menjadi guru, dosen dan macam bentuk pekerjaan lainnya, tentu profesinya perlu dimaksimalkan. Tidak sekadar puas terhadap menterengnya profesi saja. Melainkan, dari sisi semangat aneka pekerjaan guru, dosen dan jenis lainnya perlu diwujudkan.
Satu saja sebagai contoh, yakni semangat belajar. Hal ini penting bagi penulis, meminjam bahasa Prof. Musthafa Muhammad ath-Thair dalam bukunya “Percikan Cahaya Ilahi” (2009: 205), bagi siapa yang semangat belajar akan diberikan keluasan ilmu. Maka siapa saja yang telah diberikan keluasan ilmu, ia akan diberi keluasan akal untuk mengembangkan ilmu tersebut.
Terhadap aktivitas belajar, kita harus mau bersusah-susah diri rajin meluangkan waktu membaca, menghafal, menelaah dan sebagainya. Tujuannya, agar jendela pengetahuan kita terbuka. Di samping itu, keluasan ilmu juga kembali kepada kita sendiri bukan kepada orang lain.
Karenanya, jikalau ada teman sesama pekerja tidak mau belajar, itu hak dia. Tinggal kita ambil sisi positifnya saja. Mungkin saja dia sudah fasih dalam bidang keilmuannya. Sehingga, tidak membutuhkan belajar.
Tetapi penulis dan pembaca sebagai orang awam, menjadi tidak mengerti bila tidak belajar. Jika kategorinya demikian, belajar adalah kewajiban agar kebodohan dalam diri kita ini minggat. Alhasil, kala orang lain tidak bisa memahami, sikap kita tenang. Sebab berkat belajar kita bisa memahami maksud pengetahuan yang terkadang mbulet untuk diterjemahkan.
Aktivitas belajar juga perlu kita lakukan, supaya kita menjadi contoh untuk keluarga terdekat. Apalagi hari ini, belajar itu menjadi aktivitas yang berat dilakukan apalagi ditampakkan secara vulgar.
Penyebabnya godaan gadget yang masif saben hari di samping telah memberikan informasi baru juga telah memproduksi konten-konten yang tidak pernah habis untuk dilewatkan. Jadilah kemudian kita gelisah dengan tidak membuka dan menghatamkan kontennya. Alhasil, kita yang memiliki gadget bila tidak waspada, hanya akan menghambur-hamburkan waktu untuk melihat gadget saja.
Jika kita hanya menghamburkan-hamburkan waktu di depan gadget, kesempatan produktif akan banyak hilang. Sebagai akibat berikutnya, aneka aktivitas positif tidak banyak dilahirkan. Adapun yang negatif, akanlah gampang muncul bila tidak cukup keilmuan untul memfilternya.
Sebagai contoh, kita menelan mentah-mentah apa yang tersaji di gadget. Mulai dari perkelahian, dan jenis kriminal lain yang tidak bisa dihindarkan jadi angel berita. Belum lagi glamorisme dunia dagang online. Bila kita tidak bisa memilah mana keinginan dan kebutuhan, apa yang terbeli seakan-akan kebutuhan. Padahal, hakikanya itu adalah keinginan yang tidak dibutuhkan.
Oleh karena itu, memberi contoh, taudalan (uswah) membaca harus dikonstruk. Mulai dari diri kita yang kemudian jika dilihat oleh keluarga tercermin kesamaan aktivitas melakukan tindakan belajar entah itu membaca, meneliti hingga menulis.
Hal tersebut selaras dengan firman Allah Swt, surah Al-Shaff: 2-3, yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah Swt jika kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.
Mendasarkan firman di atas, kemudian memfokuskan pada perilaku belajar memang harus dimulai dari diri kita sendiri. Sebagai orang tua misal, ketika kita akan memerintahkan anak untuk belajar, kita harus lebih dahulu belajar. Selain anak secara kasat mata memahami potret orang tua sedang belajar, kita sebagai orang tua juga akan makin kaya pengetahuan kekinian metode mendidik anak.
Terlebih hasil penelitian Azizah Munawaroh (2019:153) dalam Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, menunjukkan bila keteladanan harus ditunjukkan secara komprehensif baik dari aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan).
Karenanya, momen May Day kita sebagai pekerja bersama kita tunjukkan etos kerja yang baik. Sebaliknya bagi pimpinan di manapun tempatnya, juga harus siap menjadi pimpinan yang baik, mulai dari sikap, tutur, hingga memberikan hak yang sesuai kepada pekerja yang telah bekerja untuk kita.
* Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
