gelar profesor

Terima Kasih Pak Wahib, Rektor UII yang Tak Mau Dipanggil Profesor

usman_admin Penulis
3 menit baca 32 kali
Terima Kasih Pak Wahib, Rektor UII yang Tak Mau Dipanggil Profesor
Daftar Isi
  • Memuat...
grafis.aw

“Jabatan bukan dilayani, tetapi memberi. Kami harus belajar menikmati yang tidak nikmat, dan tidak menikmati yang nikmat”


Kutipan di atas, saya baca di buku berjudul Mendesain Universitas Masa Depan (2020:9), karya Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahib. Rektor yang “tidak mau” disebut gelar Profesor, hanya menulis nama asli beliau “Fathul Wahib” patut jadi inspirasi bersama, setinggi-tingginya gelar tetap harus membumi. Dan yang lebih penting, adalah memberi manfaat.

Perihal memberi manfaat, jujur saya salut kepada Pak Wahib. Pagi ini, Sabtu (20/6/26), saya coba gulirkan (scroll) instagram. Tidak sengaja, menemukan postingan buku berjudul Kampus Manusia, di mana tertulis “Pojok Rektor #8 (2026), insyaallah segera terbit dan tersedia bebas”. 

Di slide berikutnya, 5, 4, 3, 2, dan 1, buku-buku beliau sudah tersedia bebas beralamat https://s.id/pojokrektor,  dengan menambahkan angka 01-05 secara bergantian tepat dibelakang huruf “r” untuk unduh satu per satu.

Alhasil, buku pertama beliau kala menjadi Rektor UII berjudul Mendesain Universitas Masa depan (2020), Sayap Kemajuan Universitas (2020), Manajemen Universitas di Tengah Turbulensi (2021), Merawat Misi Universitas (2022), Kesadaran Kolektif Perguruan Tinggi (2023), Perangai Ilmiah Warga Kampus (2024), Menjaga Akal Sehat Kampus (2025), telah saya miliki dan unduh. 

Inilah yang kemudian saya namakan sebagai kebermanfaatan. Tujuh e-book beliau, sudah saya miliki untuk bahan bacaan. 

Secara fisik, saya belum pernah bertemu langsung dengan baliau. Tetapi, dengan hadirnya teknologi, saya bisa menemukan jejak digital beliau yang juga senang ngonten bersama istri, tematik akademik yang dibungkus via obrolan santai.

Buku-buku beliau yang “tersedia bebas” bagi saya adalah upaya menihilkan komersialisasi karya. Karya-karya beliau yang sebelumnya sudah dipublis melalui website https://www.uii.ac.id/ dengan nama rubrik “Pojok Rektor”, memiliki tujuan arif guna mengikat gagasan untuk waktu yang lebih lama, lalu meningkatkan manfaat, serta guna memantik hadirnya diskusi lanjutan.  

Tentu, misi mulia beliau ini membawa manfaat besar, bagi saya, lalu pembaca yang mungkin menjadi akademisi bergelar apa saja. Bahwa tidak selamanya komersialisasi keilmuan itu perlu dilakukan. Artinya, menjadikan keilmuan yang kita miliki sebagai “barang dagangan” yang mahal, dan menguntungkan sebelah pihak. 

Melalui tulisan entah itu di website lembaga atau pribadi, upaya-upaya non komersialisasi itu bisa diwujudkan. 

Bahkan jika sudah terkumpul dalam jumlah banyak, selanjutnya bisa dirangkum berbuah buku sebagaimana dilakukan oleh Pak Mujamil Qomar, Guru Besar bidang Pemikiran Modern dalam Islam di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dan juga Pak Nur Syam, seorang Guru Besar Sosiologi di UINSA. 

Konsistensi

Konsistensi pemikiran Pak Wahib melalui rubrik “Pojok Rektor” mengejawantahkan hadirnya ketetapan beliau untuk senantiasa menulis. Ruang kampus yang ilmiah dari sisi penggunaan bahasa, bisa kemudian dibumikan pesannya dengan mudah kepada sesama. 

Sehingga, akademisi tidak selamanya membawa gelondongan “bahasa ilmiah” di manapun berada. Padahal, pesannya tidak bisa dipahami dan dicerna. Akibatnya, dari aspek sikap, perilaku masyarakat juga mengalami kebuntuan perubahan.

Karenanya, kontemplasi ilmuan-ilmuan yang humble antara ucapan dan perbuatan, kini banyak ditunggu. Hadirnya kata inspiratif sebagaimana lead di atas berbunyi “Jabatan bukan dilayani, tetapi memberi” tentu menyindir kita semua yang kini sedang diamanahi. Apakah, senang dilayani! Yakni, apa-apa serba diminta menyiapkan, membereskan, asal bapak atau ibu pimpinan senang? 

Jika berdasar yang disampaikan Pak Wahib, tafsirannya tentu tidak. Melainkan ikut memberi contoh nyata melayani dengan sepenuh hati pemimpinan kepada bawahan.

Kemudian  “Kami harus belajar menikmati yang tidak nikmat, dan tidak menikmati yang nikmat” ini coba ikut merasakan sengsaranya kepanasan contoh oleh ruangan yang panas –meski sudah ada AC. Kemudian menghindarkan hal-hal berpotensi koruptif –dalam arti memperkaya diri atas nama program, di tengah kesengsaraan orang lain. 

Atas, e-booknya pak Wahib, saya mengucapkan terima kasih, dan izin saya unduh untuk saya baca dan amalkan.

Ditulis oleh

usman_admin

Penulis di Usman Roin.

Lihat semua artikel
Favicon
Site Icon Update New-Patch.4.0 (Anti PHP-2-Shell Edition) · Aktif

Melindungi Ekosistem Digital usmanroin.com

Selamat datang di era keamanan baru bersama Guardian Dome. Sistem keamanan cerdas yang aktif mengisolasi dan memblokir ancaman secara mandiri dengan mekanisme pertahanan otonom yang dikelola oleh Cyber Defense & Security Operations (SEC-OPS usmanroin.com) untuk memantau, menganalisis, dan merespons ancaman secara otomatis di seluruh ekosistem digital usmanroin.com — secara real-time, 24 jam nonstop.

📡 Pemantauan Real-time
Memantau aktivitas dan lalu lintas sistem secara langsung dan berkelanjutan.
📊 Analisa Perilaku
Mengenali pola akses yang tidak wajar dari pengguna maupun bot.
🛡️ Anti PHP-2-Shell & RCE
Memblokir injeksi Webshell, eksekusi kode jarak jauh (RCE), dan script ilegal.
📁 Malicious Upload Shield
Memindai unggahan berkas dari penyelundupan ekstensi dan tag PHP berbahaya.
🔒 Blokir Total (Auto-Ban)
Memasukkan IP mencurigakan ke blacklist pemblokiran total seketika.
⚡ Mitigasi Otomatis
Merespons dan menangani ancaman tanpa menunggu tindakan manual.