Untuk membimbing perilaku disiplin, cara-cara informatif perlu saya lakukan. Salah satunya adalah dengan menempelken pengumuman ‘yang terlambat, dilarang masuk’, kemudian ditempelken di depan pintu kelas yang saya ajar.
Sekilas memang ‘agak’ ekstrim. Tetapi ini demi menumbuhkan disiplin masuk kelas. Terlebih, saat membaca karya Imam Al-Ghazali berjudul Minhaj al-Muta’alimin yang diterjemahkan penerbit DIVA Press bertajuk Etika Belajar dan Mengajar Bagi Guru dan Murid: Pedoman Pendidikan yang Etis, Maslahah, dan Berkah (2025: 18) bila Rasulullah meminta kepada kita menjadi dua dari tiga golongan.
Kata Al-Ghazali, kita diminta menjadi orang yang alim, yang belajar; dan jangan menjadi orang ketiga, tidak alim dan tidak semangat untuk senantiasa belajar.
Masih di halaman yang sama –18–, Rasulullah kata Al-Ghazali, juga meminta kepada kita semua menjadi pribadi dengan empat ciri. Yaitu menjadi alim, penuntut ilmu, pendengar –majelis ilmu– dan pecinta –yang sekarang dikenal muhibbin– ulama. Dan jangan jadi yang kelima sebagaimana kriteria tersebut bila tidak ingin binasa.
Mendasarkan pada literatur karya Al-Ghazali ‘Jalan Sang Penuntut Ilmu’ atau Minhaj al-Muta’alimin, sisi edukasi saya kepada mahasiswa dalam hal disiplin saya pertegas.
Keputusan untuk memberi informasi edukatif perihal disiplin tidak serta merta tanpa pertimbangan matang. Sebab, sudah mulai ada ‘tanda-tanda’ ndlewer atau tidak taat masuk sebagaimana jam pertemuan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Apalagi, posisi mereka dalam hal ini mahasiswa adalah pencari ilmu. Maka, sikap-sikap semangat salah satunya ditandai dengan disiplin hadir pada waktunya, perlu diupayakan secara baik.
Pernah, saya bertanya kepada mahasiswa mengapa dia terlambat? Jawabnya, telat bangun tidur. Jika jawaban yang model seperti ini ‘diterima’ begitu saja, lalu tidak ada upaya untuk memperbaiki agar besuk tidak terlambat lagi, sama saja membiarkan mahasiswa dalam ketersesatan yang nyata.
Padahal, mahasiswa hari ini adalah penerus masa depan. Jika demikian, dari lubuk hati terdalam, saya tidak ingin membiarkan penerus masa depan tidak bisa menertibkan dirinya sendiri. Contohnya, untuk bertarung dengan bangun pagi saja milih lemparkan handuk tanda kekalahan!
Kelak jadi Pendidik
Alasan logis berikutnya, mahasiswa yang saya ajar, adalah calon pendidik Agama Islam. Maka, nilai Islam yang telah diperkenalkan mulai dari alit –sejak kecil– hingga jenjang PT, bukan lagi menjadi teori buat gaya-gayaan belaka. Tetapi, diamalkan.
Untuk melahirkan pendidik Agama Islam, tentu antara teori dan praktik kudunya selaras. Bila tidak, ini masalah.
Jika pasca lulus mereka menjadi pendidik –ustaz-ustazah, guru, murobbi– dan aneka sebuat lainnya; kemudian tidak berdisiplin dalam pembelajaran, pendidik yang seperti ini tidak bisa memberi teladan yang baik kepada peserta didiknya.
Alhasil, bila kemudian saya –sebagai orang tua, misal– menitipkan putra atau putrinya kepada lembaga pendidikan yang memiliki ‘pendidik’ berjenis karakter tidak disiplin, apakah sebagai orang tua terima?
Orang tua mana pun yang paham hakikat disiplin secara ontologi, epistemologi, dan aksiologi akan ngelus dodo. Sebab dalam perilaku keseharian, sang putra sering telat menunaikan ibadah, terlambat hadir kala janjian dengan teman, dan menganggap biasa ‘keterlambatan’.
So, ini ya para mahasiswa saya, mengapa perlu ada informasi edukatif perihal berdisiplin hadir di kelas saat kuliah. Semoga bisa dimengerti. Stop telat, jangan terlambat, bentuk pribadi hebat.