Bagaiman bila dalam perjuangan, mereka yang di sekeliling kita surut?
Di sinilah kita diuji. Apakah ikut surut, atau justru tetap semangat mengemban amanah! Perjuangan hari ini, kalau saya angen-angen lebih berat jalannya dari orang-orang sebelum kita.
Untuk hidup saja serba terbatas. Fasilitas penerangan juga minim. Makan dan minum juga seadanya. Bahkan, ada yang sampai tak punya apa-apa. Alias tidak makan. Tetapi, semangat juang untuk kemerdekaan terwujud tanpa pernah surut.
Refleksi kecil inilah kadang yang saya dan panjenengan perlukan. Era kekinian yang penuh kemudahan, nyatanya, menjadi ‘tidak’ mudah lagi. Jalan yang sudah nglenyer, namun ‘tidak’ nglenyer alias seret. Buktinya, berat hadir, seribu alasan disampaikan, dan sebagainya.
Ini artinya, beratnya hadir di sebuah acara bukan lagi persoalan jalan fisik. Tetapi, berat di jalan ‘pikiran diri’ untuk datang. Lebih kepada persoalan memaknai ‘untung-rugi’ untuk diri.
Jika persepsi tersebut hadir kepada saya, panjenengan, maka dalam melakukan pengabdian ‘kemanfaatan’ terhadap diri sendiri akanlah selalu dipertanyakan lebih awal.
Apakah Salah?
Normalnya hidup sosial, tentu kurang betul. Kehidupan kita tentu membutuhkan orang lain. Kesuksesan kita tentu atas uluran tangan orang-orang yang berada di sekeliling kita. Hanya saja, kita tidak menyadari. Perspektif yang dianut, kesuksesan kita ‘karena diri’ kita sendiri.
Pada posisi ini, kalau saya punya perspektif sebagaimana di atas, saya telah lalai. Panjenengan juga lalai. Sebab, sekadar mementingkan kehidupan pribadi. Kebermanfaatan untuk orang lain tidak kita lahirkan.
Jika saya atau panjenengan paham, semangat perjuangan yang dilakukan meski sendiri, saya dan panjenengan selesai menata diri. Saya dan panjenengan tidak terpengaruh oleh ‘ketidaksertaan’ teman, bestie, serta apapun namanya.
Sebab, jika kita turut nglokro, seakan semangat diri saya dan panjenengan masih tergantung orang lain. Bisa dikendalikan orang lain. Padahal, jika ini terjadi, malah akan merugikan saya dan panjengan untuk meningkatkan kompetensi diri dari waktu ke waktu.
Alasan lain, saya dan panjenengan adalah makhluk hidup. Normalnya makhluk hidup, ending-nya akan segera tidak hidup. Terhadap ketiadaan –meninggal– saya dan panejengan kan tidak mengetahui. PR-nya adalah jangan sampai terlambat untuk senantiasa semangat, berkarya dalam berbagai hal.
Masih sering kita mendengar orang berucap, akan taubat di hari tua saja. Akan dermawan kala harta sudah banyak. Akan berbuat adil setelah menjadi pimpinan. Padahal, keinginan-keinginan yang masih ‘semu’ tersebut ketika sudah tercapai kadang malah lupa.
Saking lupa hingga jasad tiada, angan-angat baik sebagaimana saya sebut tersebut luput dari ketercapaian. Artinya, mimpi untuk baik, bermanfaat kepada sesama, tetapi ditunda nanti, nanti, dan nanti saja. Tanpa terasa ajal mengakhiri tanpa konfirmasi dan kompromi.
Jika demikian, tak perlu untuk bermanfaat hingga tercapai terlebih dahulu sarananya. Jika ini yang dipilih, saya dan panjenengan teguh dalam integritas diri.