Seberapa sering kita mematikan gadget?
Pertanyaan ini seperti ‘konyol’, ngapai gadget perlu dimatikan segala. Tentu biar gadget yang kita miliki awet. Salah satu caranya, bisa dengan menonaktifkan gadget kala dicas.
Karenanya, bila kita menghubungi seseorang kemudian nonaktif, dan setelah itu baru membalas bila gadgetnya selesai dicas dengan posisi mati, harap dimaklumi. Bisa jadi, orang tersebut mempraktikkan ‘mateni’ gadget kala dicas.
Saya kadang angen-angen, andaikan gadget yang kita miliki ini bisa bicara, maka ia akan banyak protes kepada kita sang pemilik. ‘Mbak, mas; mengapa saya tidak dimatikan kala ngecas? Saya kok dikongkon mergawe, melayani kebutuhan sampean!’
Namun sayang, gadget yang kita miliki hanya benda mati. Secara langsung (verbal), ia memang tidak bisa protes. Tanpa ngomong-ngomong (tak langsung), biasanya gadget akan mengalami ngehang sesekali waktu.
Hidup
Meski gadget ‘hanya’ benda mati, tetapi hakikatnya tak ‘mati’. Tanda-tandanya, bila kita over kala memakai, kondisi anget, setengah anget, hingga panas akan bisa terasa kala tangan menyentuhnya.
Rasa anget ini bila kita ‘luput’ menangkapnya, akan menyebabkan gadget boros atau low bad. Karenanya, sebagai bukti bila gadget itu juga butuh diperlakukan secara manusiawi, saat cas, saya terbiasa mematikan.
Hal lain, dalam hal kebersihan, gadget tidak lupa saya lap memakai kanebo. Untuk yang ini coba bisa panjenengan praktikkan.
Saya banyak melihat gadget yang dipegang teman-teman, atau orang terdekat kita, layarnya banyak minyaknya. Bisa dari keringat, bisa juga saat makan sambil scroll, atau posisi menaruh gadget yang sembarangan. Bahkan, ada yang sampai membawanya sebagai teman kala di toilet.
Jika dirasa, layar gaget yang seperti ini akan kasar, licin. Bahkan potensi ‘bakteri’, yang dibawa selama di toilet akan menyebar ke mana-mana. Alhasil, untuk hal kebersihan, saya terbiasa membersihkan dengan kanebo yang agak lembab air. Terbukti, layar menjadi bersih.
Meski ketika membersihkan gadget ia tidak bisa berkata ‘terima kasih’ kepada saya, tetapi kepuasan membersihkannya jadi kebahagiaan tersendiri. Gadget bersih, mengkilap, tidak berdebu dan kasar.
Bila panjenengan melakukan hal yang sama, meski cara membersihkannya berbeda, artinya opén terhadap titipan yang dimiliki.
Ihsan
Perilaku kecil mematikan gadget kala ngecas, lalu mengelapnya dengan kanebo agar senantiasa bersih, kata Amr Muhammad Khalid (2017: 44-45) dalam bukunya Baguskan Akhlakmu: Kau Akan Sukses dan Bahagia di Mana Saja sebagai perilaku ihsan. Atau, menjadikan kebaikan sebagai perilaku keseharian.
Perintah ihsan bisa kita lihat dalam firman Allah Swt surah al-Sajadah: 7, Zat yang membaguskan segala ciptaan-Nya. Lalu lihat pula surah al-Hijr: 16, Allah membuatnya indah bagi orang yang memandangnya.
Jika Allah telah memberi petunjuk menyenangi keindahan, kemudian saya dan panjenengan coba melakukan dengan membuat indah terhadap barang –gadget dijaga kebersihan– jadi senantiasa indah, alhasil perilaku ini masuk kategori ihsan.
Akhirnya, mari berbuat ihsan –membuat baik– terhadap apa saja barang yang kita miliki sebagai bentuk syukur titipan dari-Nya.