Tiba-tiba saja muncul kata ‘peduli’ saat di depan laptop. Satu kata yang rencana saya jadikan judul tulisan ini, mengingatkan kepada gaya kepenulisan Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam Unugiri, Sri Minarti.
Yang saya amati, esai yang dibuat beliau itu ‘kebanyakan’ hanya memiliki satu kata. Tulisan ini hadir, tidak berarti meniru beliau. Melainkan, sebab membayangkan saja bila sikap ‘peduli’ yang menurut KBBI diartikan mengindahkan, memperhatikan, dan menghiraukan terwujud nyata. Betapa indahnya.
Kaluarga
Satu contoh kecil saja, keluarga yang di dalamnya ada suami, istri, anak dan seterusnya; ketika bangun tidur, lalu, yang dilakukan kemudian adalah membereskan tempat tidurnya, itulah yang saya maksud peduli.
Dari kamar, diteruskan ke dapur; jika anggota keluarga sehabis makan, lalu kemudian mencuci piring dan mengembalikan kepada tempatnya, artinya, itu juga perilaku peduli.
Sosok suami setelah mengetahui menteri MBG memasak dan banyak perabotan yang kotor, kemudian mencucinya, itu artinya juga tafsiran dari peduli.
Begitu juga anak, melihat bu menteri yang telah capek menyiapkan menu MBG, lalu sang anak mencuci perabotan yang kotor, itu juga tafsir dari peduli.
Kampus
Dari keluarga kita pindah ke kampus. Bila ada dosen yang suka rokok, kemudian tidak mambuang puntung rokok sembarangan, melainkan dimatikan di asbak; lalu setelah penuh kemudian puntungnya dibuang di sampah, itu juga makna dari peduli.
Begitu juga sang mahasiswa, yang bukan siswa lagi; tetapi di atasnya siswa yang sudah menjadi maha, jika kemudian melakukan hal yang sama –merokok: sebagai misal– dan puntungnya dimatikan dengan benar, lalu dimasukan di sampah yang telah tersedia, itu juga bagian dari perilaku peduli.
Kemudian, saat mahasiswa membawa dan menikmati minuman, makanan kecil hingga besar di kelas; kemudian setelah selesai menikmati, bungkus makanannya dibuang di tempat sampah, itu juga peduli.
Sang juru keamanan, yang mengamankan gadget yang tertinggal, kunci yang masih cementel khusuk di motor, dan menyeberangkan siapa saja yang mau lewat, itu juga bagian dari peduli.
Penenteng sapu yang menyisir daun kering yang jatuh, plastik yang bercecer; pembawa lap dan pel yang dengan mesra mengkinclongkan kaca dan memengkilapkan lantai; lalu pengosek kamar mandi yang dengan kebesaran hati membersihkan tinggalan sisa kotoran orang lain, itu juga makna peduli.
Masyarakat
Dari kampus turun ke masyarakat, bila kita hidup di masyarakat lalu ada budaya tahlil dan ikut, itu juga peduli. Ada yang kesripahan (baca: berduka), lalu ikut mensholati itu juga peduli. Ada program resik-resik dan ikut, itu juga bagian dari peduli.
Kita punya speaker aktif, yang suaranya kayak sound horeg; lalu kita membunyikannya pelan agar tidak mengganggu tetangga, itu juga bagian dari pengertian peduli.
Bantuk-bentuk perilaku peduli yang penulis deskripsikan di atas, sekali lagi, sekadar contoh. Tugas berikutnya adalah mengembangkan. Sehingga perilaku peduli di mana pun ruangnya, senantiasa hadir.
Kata Richard Carlson (2025: 161) dalam bukunya Jangan Membuat Masalah Kecil dari Masalah Besar mengatakan, yang paling banyak kita praktikkan itulah yang membentuk diri kita.
Jika kemudian kita semangat peduli di sini dan di sana, di sana dan di sini, karakter diri akan menunjukkan secara otomatis sebagai pribadi yang peduli.