Bagaimana dari personal website (pw) bisa menjadi tambahan manfaat? Itulah setidaknya diskusi saya, mas Najib dan Syahril di salah satu warung kopi yang ada di Bojonegoro. Pw tersebut adalah usmanroin.com milik saya.
Selain menjadi sarana saya menuangkan ide yang muncul untuk kemudian ditulis, niat yang muncul adalah, bagaimana bila ada kemanfaatan lebih kepada sesama. Penekanan ‘manfaat kepada sesama’ menjadi ruang stakeholder lain untuk menginformasikan kegiatan yang diselenggarakan.
Hanya saja, kegiatannya institusi yang tidak umum. Tetapi, spesifik dengan disiplin ilmu yang saya pendidikan. Maka, saluran informasi kegiatan pendidikan itulah yang kemudian coba saya utarakan saat ngobrol kecil, Senin (19/10/26).
Dari rapat kecil tersebut, akhirnya, sepakat. Saya jadi lega, sebab ada kemanfaatan tambahan untuk pw. Sebagaimana dimengerti, kegiatan yang diselenggarakan lembaga pendidikan itu banyak sekali dalam semester. Yang masih luput, adalah mendokumentasikan berbasis digital.
Titip Dokumen
Ketika lembaga pendidikan belum memiliki website, langkah praktisnya memang mengirimkan kegiatan kepada rekanan media. Fungsinya, kegiatan yang telah terselenggara memiliki wadah sementara penyimpan, pengaman, dan branding.
Bisa dibayangkan bila kegiatan lembaga pendidikan yang banyak, tetapi, buktinya tidak ada. Jika suatu saat dibutuhkan, maka kebingungan akan terjadi. Di mana fotonya? Di mana menyimpannya? Dan macam pertanyaan lain yang tidak bisa mengembalikan memori terjadinya kegiatan saat itu.
Selain tempat menitip dokumen, hadirnya rekanan website, juga bisa difungsikan sebagai sarana belajar. Yang saya maksud, bila lembaga pendidikan belum memiliki website mandiri, keterampilan menulis berita bisa diasah dengan seringnya mengirimkan berita kegiatan kerekanan media.
Saya mengalami, kala pertama kali belajar menulis berita dengan rekan wartawan. Dia hanya bilang, ‘tiru saja tulisan saya yang sudah jadi’, ungkapnya. Dari situ, kita bisa melakukan proses amati, kemudian tiru –sistematika, dan pemilihan diksinya– dari berita yang sudah jadi, baru kemudian modifikasi.
Setelah kemudian bisa, mencoba dengan karakter sendiri, atau belajar teknik kepenulisan lain itu yang maknai modifikasi. Alhasil, rumus ATM, sangat jos-jis untuk menyelesaikan proses belajar terampil menulis berita.
Proses belajar menulis berita ini, pemilik lembaga pendidikan bisa meminta salah satu pendidik hingga tenaga kependidikan, untuk nyantrik, atau dalam istilah terkini berguru kepada rekanan media.
Kegunaannya, selain itu menjalin hubungan kerja kepenulisan, juga dalam rangka mengkader, dalam istilah membimbing secara intensif penulisan berita. Sebab, jarang sekali ada rekanan media yang menawarkan bimbingan menulis berita. Jika ada, tentu, tidak boleh begitu saja dibiarkan oleh lembaga pendidikan.
Ketiga yang dibimbing telah mahir menulis berita, lembaga pendidikan tidak perlu khawatir lagi untuk pesen website sendiri. Sebab, tenaga ahlinya telah mendapatkan bimbingan intensif, dan telah mempraktikkan meliput kegiatan lembaganya.
Diantara alasan mengapa saya suka ngopeni website? Sebab, saya bisa menyuguhkan satu tema kecil dengan ulasan mendalam. Oleh karena alasan inilah, banyak hal yang bisa dipelajari. Jika kemudian kita tarik kepada ranah pendidikan, kita tidak sekadar tahu si ‘A’, kemudian si ‘B’ juga si ini dan si itu ‘juara’.
Melainkan, prose bagaimana menjadi juara itulah yang perlu diulas mendalam, hingga bisa menginspirasi banyak orang. Untuk mengerti bagaimana yang di sana mengerti prosesnya, tulisan website menjadi cirinya. Mendalam, kalau boleh saya bilang.
Akhirnya, niat untuk mewujudkan kemanfaatan lebih terhadap pw, semoga mendapat ridlo dari Allah Swt. Amin ya rabbal ‘alamin.