Mengapa kita perlu memiliki komunitas sehobi? Pertanyaan ini penting saya ketengahkan. Di era kemajuan teknologi, kehadiran group maya maupun kopdar sehobi, menjadi kebutuhan. Tidak terkecuali komunitas menulis.
Saya masih ingat betul, bagaimana buku saya berjudul Agar Ramadanmu Kaya Amal ini lahir juga dari semangat anggota yang senang menulis, meski dengan genre yang berbeda-beda. Group komunitas saya sederhana, bernama ‘Pena Blogger’.
Tipe (genre) tulisan saya yang nonfiksi –esai, opini– selalu saya hadirkan untuk setiap hari menulis. Alhasil, buku baru di 2026 ini, berisi refleksi diri selama sebulan bagaimana mengoptimasi kehadiran bulan Ramadan. Jadi, mulai dari hari pertama Ramadan, hingga lebaran tiba, tulisan saya lahirkan.
Begitu pula dengan pak Slamet Widodo, selaku guru matematika yang mahir menulis fiksi di lembar budaya koran ternama di Bojonegoro.
Kala Ramadan kemarin, saya sama beliau ‘berkompetisi’ untuk saling menghasilkan tulisan. Ketika sudah dipublis, tulisan selanjutnya saling dikirim di group tersebut untuk bisa dibaca sebagai refleksi diri.
Adapun group kami yang ketiga adalah mas Ainun Najib. Yang seingat saya, dua kali mengirimkan tulisannya di group tersebut.
Spirit Berkarya
Ketika saya, pak Slamet, dan mas Najib mengirimkan link karya tulis terbaru di group, rasa ‘panas’ hati muncul. ‘Saya’ harus menghasilkan tema tulisan apalagi. Begitu kata hati.
Keterpacuan inilah yang kemudian indera tubuh bekerja tentang apa, dan dari mana tema tulisan saya hari ini hadir; dan ketika selesai, lalu publis, serta share di group komunitas.
Saya masih ingat betul bahawa website pak Slamet bernama laraswangi.my.id pertama kali di-launching di group ‘Pena Blogger’. IT desain website-nya, pak Slamet bercerita, adalah siswanya sendiri. Sementara mas Najib, juga memiliki blogger bernama insanpembelajar.my.id.
Kami bertiga saling saut manuk –berbalas karya tulis terbaru– yang ter-share di blog. Karena saling share itulah, motivasi untuk menulis tinggi. Bahkan, pak Slamet saking produktifnya, dalam sehari mengirimkan dua tulisan.
Adapun saya, sehari satu saja, agar besuk memiliki tabungan tulisan yang bisa bagikan di group.
Belajar jadi Publisis
Kehadiran group komunitas menulis selain wadah penyaluran hobi yang sama bila ditinjau dari sisi sosial network, juga ruang pemacu produktifitas menulis. Sebab, bila salah satu kendor, ia akan terpecut untuk tidak mau kalah dengan anggota yang produktif menulis.
Jika demikian, selain menjadi penulis –oleh sebab memiliki website sendiri– saya, pak Slamet, dan mas Najib belajar juga bagaimana menjadi publisisi atau meminjam KBBI daring sebagai orang yang terampil dalam bidang publikasi tulisannya sendiri di medianya sendiri pula.
Alhasil, kami menjadi tahu, bagaimana tulisan yang telah dihasilkan ketika masuk dapur website mendapat editing terlebih dahulu. Yang tebal, ya ditebalkan. Yang miring, ya dimiringkan dan seterusnya.
Tidak lupa, dalam dapur website yang kami miliki, kami juga belajar bagaimana membuat judul yang menarik. Meski kadang, judulnya ‘agak’ tidak pas, tetapi bagi kami judul itulah yang sesuai.
Menjadi publisis inilah kami belajar double-triple skill (keterampilan) dunia tulis menulis. Mau tidak mau, kamus KBBI daring kudu kami download, kemudian menata diksi hingga kalimat yang disusun enak dibaca (mengalir). Sehingga pambaca, memahami apa yang kami sampaikan melalui tulisan.
Proses inilah yang kami alami sebagai penulis. Tidak kemudian ujug-ujug ‘jadi’ penulis. Tetapi ada waktu yang dikorbankan, pikiran yang diperas kata pak Slamet.
Akhirnya, mari pembaca semua yang belum memiliki komunitas –menulis sebagai contoh– buat, merihkan dengan saling melahirkan tulisan.
Sebab, di dalamnyalah mental kita diuji untuk tatag menerima kritik, sanjungan tanpa besar kepala, dan yang terpenting berproseslah untuk menjadi penulis di tengah gempuran IA.