Apa yang menarik saya membeli buku The Art of Scientific Inquiry: Menguasi Cara Berpikir, Meneliti, dan Menulis Ilmiah karya Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan? Itulah pertanyaan mendasar yang saya ajukan kepada diri sendiri.
Tentang buku ini, saya ‘juga’ dapat info keberadaannya dari teman sejawat di kampus. Dia bilang kala bertemu di warung kopi, mendapat referensi dari alumnus UIN Suka. Akhirnya, dia membeli dan menunjukkan kepada saya.
Saya sampaikan kepada kolega, bila saya juga sudah order dan buku sedang dalam proses pengiriman.
Ketertarikan
Jika kolega saya tertarik bukanya pak Noorhaidi Hasan karena referensi alumni, beda dengan saya.
Singkat cerita, pertama kali tertarik, kala jeda membaca buku, kemudian hadir iklan (sponsor) di instagram penerbit sukapress menampilkan buku baru yang sub judulnya tertulis bagaimana menguasai cara berpikir, meneliti, dan menulis ilmiah. Kata ‘menulis’ ini yang membuat saya terpikat. Sebab, saya juga demen menulis.
Jujur terhadap buku yang memberi best practice menulis, saya suka mengoleksi. Alhasil, koleksi buku yang topiknya menulis, sudah lebih dari 40 judul.
Aspek lain, yang membuat saya tertarik membeli buku tersebut adalah penulis menulis nama asli –Noorhaidi Hasan– tanpa embel-embel gelar akademik. Ini yang membuat saya penasaran.
Bagi saya, beberapa buku yang pernah saya beli dan sang penulis tidak menyematkan gelar akademiknya, ia hanya ingin dikenal namanya saja. Bagi saya, itu jos jis.
Jika ditarik dalam ranah jurnalistik, Asti Musman dan Nadi Mulyadi (2021: 216-217) mengatakan perilaku menampilkan nama –tanpa gelar– itu sebagai simbol demokratis. Yaitu, ciri bahasa yang mengenalkan bila setiap individu memiliki kedudukan sama. Sekadar nama, bukan simbol gelar yang dibesarkan untuk disapa.
Terbukti, setelah buku saya baca Sabtu, Minggu (17-18/10), tulisannya mengalir, mudah dipahami, dan jujur tidak mengecewakan alias berbobot. Meminjam bahasa Hernowo Hasim, termasuk dalam kategori buku bergizi.
Aspek terakhir, baru kemudian menelusuri siapa penulisnya yang ternyata orang nomor satu –Rektor– UIN Suka. Saya menyadari, orang nomor satu dengan segudang kesibukan dan tanggung jawab kok masih melahirkan karya berupa buku, istimewa. Apalagi, bila buah karya tulisnya mudah secara pemahaman, bagi saya masuk kategori memberi manfaat nyata.
Kadang, saking sudah tingginya gelar-kepangkatan, level bahasa di-nangkring-kan alias tidak diturunkan. Alhasil, apa yang disampaikan membuat orang tidak mudah mencerna.
Jika itu berupa bahasa verbal, penyampaiannya sulit dipahami hingga menyebabkan tidak jadi didengarkan. Penyebabnya, otak sulit mencerna apa yang sedang diutarakan.
Jika kemudian bahasa tulis, gaya penuturannya pun melangit penuh dengan bahasa-bahasa ilmiah. Maka, baru satu halaman membaca, buku kemudian termusiumkan dirak hingga almari. Sebab, yang diharapkan tulisannya bisa mengisi oase kekurangan pembaca, tetapi malah membikin pusing dan mengajak untuk segera mengakhiri sedini mungkin alias ditutup.
Esensi Meneliti
Membaca buku Noorhaidi Hasan –sampai halaman 83 kala tulisan ini di-publish– menyadarkan saya bahwa meneliti itu penting. Realitas peneliti dan mungkin saya sendiri, kala akan melakukan penelitian yang utama dicari adalah judulnya dahulu. Padahal menurut beliau, pertanyaan penelitian itu yang justru penting –lihat hal. 18.
Beliau memberi ilustrasi, ilmu pengetahuan itu berkembang bukan oleh sebab manusia telah menemukan semua jawaban. Tetapi, karena manusia tidak pernah berhanti mengajukan sebuah pertanyaan. Artinya, penelitian dilakukan sebagai upaya untuk menemukan sesuatu yang belum dapat diterangkan secara memadai.
Atas dasar terdapat ‘sesuatu’ yang belum dapat diterangkan secara jelas, dan memadailah, penelitian itu dilakukan. Akhirnya, buku setebal 390 halaman, 13 bab, dan sudah cetak ketiga –info teranyar– mengajak saya tidak ingin berhenti membaca.
Setiap mau diakhiri, eman-eman banget. Itu karena, penuturannya dekat. Seolah-oleh, beliau sedang nututuri (menasehati) saya yang dengan melongo menyimaknya. Penuh dengan daging gaes.