pendidikan

Matur Nuwun Pak Noorhaidi, Bukunipun Tak Bikin Bosan Baca

usman_admin Penulis
3 menit baca 10 kali
Matur Nuwun Pak Noorhaidi, Bukunipun Tak Bikin Bosan Baca
Daftar Isi
  • Memuat...

Apa yang menarik saya membeli buku The Art of Scientific Inquiry: Menguasi Cara Berpikir, Meneliti, dan Menulis Ilmiah karya Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan? Itulah pertanyaan mendasar yang saya ajukan kepada diri sendiri.

Tentang buku ini, saya ‘juga’ dapat info keberadaannya dari teman sejawat di kampus. Dia bilang kala bertemu di warung kopi, mendapat referensi dari alumnus UIN Suka. Akhirnya, dia membeli dan menunjukkan kepada saya.

Saya sampaikan kepada kolega, bila saya juga sudah order dan buku sedang dalam proses pengiriman.

Ketertarikan

Jika kolega saya tertarik bukanya pak Noorhaidi Hasan karena referensi alumni, beda dengan saya.

Singkat cerita, pertama kali tertarik, kala jeda membaca buku, kemudian hadir iklan (sponsor) di instagram penerbit sukapress menampilkan buku baru yang sub judulnya tertulis bagaimana menguasai cara berpikir, meneliti, dan menulis ilmiah. Kata ‘menulis’ ini yang membuat saya terpikat. Sebab, saya juga demen menulis.

Jujur terhadap buku yang memberi best practice menulis, saya suka mengoleksi. Alhasil, koleksi buku yang topiknya menulis, sudah lebih dari 40 judul.

Aspek lain, yang membuat saya tertarik membeli buku tersebut adalah penulis menulis nama asli –Noorhaidi Hasan– tanpa embel-embel gelar akademik. Ini yang membuat saya penasaran.

Bagi saya, beberapa buku yang pernah saya beli dan sang penulis tidak menyematkan gelar akademiknya, ia hanya ingin dikenal namanya saja. Bagi saya, itu jos jis.

Jika ditarik dalam ranah jurnalistik, Asti Musman dan Nadi Mulyadi (2021: 216-217) mengatakan perilaku menampilkan nama –tanpa gelar– itu sebagai simbol demokratis. Yaitu, ciri bahasa yang mengenalkan bila setiap individu memiliki kedudukan sama. Sekadar nama, bukan simbol gelar yang dibesarkan untuk disapa.

Terbukti, setelah buku saya baca Sabtu, Minggu (17-18/10), tulisannya mengalir, mudah dipahami, dan jujur tidak mengecewakan alias berbobot. Meminjam bahasa Hernowo Hasim, termasuk dalam kategori buku bergizi.

Aspek terakhir, baru kemudian menelusuri siapa penulisnya yang ternyata orang nomor satu –Rektor– UIN Suka. Saya menyadari, orang nomor satu dengan segudang kesibukan dan tanggung jawab kok masih melahirkan karya berupa buku, istimewa. Apalagi, bila buah karya tulisnya mudah secara pemahaman, bagi saya masuk kategori memberi manfaat nyata.

Kadang, saking sudah tingginya gelar-kepangkatan, level bahasa di-nangkring-kan alias tidak diturunkan. Alhasil, apa yang disampaikan membuat orang tidak mudah mencerna.

Jika itu berupa bahasa verbal, penyampaiannya sulit dipahami hingga menyebabkan tidak jadi didengarkan. Penyebabnya, otak sulit mencerna apa yang sedang diutarakan.

Jika kemudian bahasa tulis, gaya penuturannya pun melangit penuh dengan bahasa-bahasa ilmiah. Maka, baru satu halaman membaca, buku kemudian termusiumkan dirak hingga almari. Sebab, yang diharapkan tulisannya bisa mengisi oase kekurangan pembaca, tetapi malah membikin pusing dan mengajak untuk segera mengakhiri sedini mungkin alias ditutup.

Esensi Meneliti

Membaca buku Noorhaidi Hasan –sampai halaman 83 kala tulisan ini di-publish– menyadarkan saya bahwa meneliti itu penting. Realitas peneliti dan mungkin saya sendiri, kala akan melakukan penelitian yang utama dicari adalah judulnya dahulu. Padahal menurut beliau, pertanyaan penelitian itu yang justru penting –lihat hal. 18.

Beliau memberi ilustrasi, ilmu pengetahuan itu berkembang bukan oleh sebab manusia telah menemukan semua jawaban. Tetapi, karena manusia tidak pernah berhanti mengajukan sebuah pertanyaan. Artinya, penelitian dilakukan sebagai upaya untuk menemukan sesuatu yang belum dapat diterangkan secara memadai.

Atas dasar terdapat ‘sesuatu’ yang belum dapat diterangkan secara jelas, dan memadailah, penelitian itu dilakukan. Akhirnya, buku setebal 390 halaman, 13 bab, dan sudah cetak ketiga –info teranyar– mengajak saya tidak ingin berhenti membaca.

Setiap mau diakhiri, eman-eman banget. Itu karena, penuturannya dekat. Seolah-oleh, beliau sedang nututuri (menasehati) saya yang dengan melongo menyimaknya. Penuh dengan daging gaes.

Ditulis oleh

usman_admin

Penulis di Usman Roin.

Lihat semua artikel
Favicon
Site Icon Update New-Patch.3.0 (29-07-2026) · Aktif

Melindungi Ekosistem Digital usmanroin.com

Selamat datang di era keamanan baru bersama Guardian Dome. Sistem keamanan cerdas yang aktif mengisolasi dan memblokir ancaman secara mandiri dengan mekanisme pertahanan otonom yang dikelola oleh Cyber Defense & Security Operations (SEC-OPS usmanroin.com) untuk memantau, menganalisis, dan merespons ancaman secara otomatis di seluruh ekosistem digital usmanroin.com — secara real-time, 24 jam nonstop.

📡 Pemantauan Real-time
Memantau aktivitas dan lalu lintas sistem secara langsung dan berkelanjutan.
📊 Analisa Perilaku
Mengenali pola akses yang tidak wajar dari pengguna maupun bot.
🔒 Blokir Total (Auto-Ban)
Memasukkan IP mencurigakan ke blacklist pemblokiran total seketika.
⚡ Mitigasi Otomatis
Merespons dan menangani ancaman tanpa menunggu tindakan manual.