motivation

Satu Media Satu Tulisan

3 Menit Baca
PHOTO-by
Bram Naus on Unsplash


usmanroin.com, JUDUL-di atas menarik untuk diulas. Pertama, kemenarikan tersebut hakikatnya untuk memberi informasi kepada pembaca, kala kita memiliki satu karya tulis yang telah selesai, ya cukup dikirimkan ke satu media saja. 

Kemenarikan kedua, tema di atas kenapa penulis ulas untuk memberi edukasi kepada para penulis baik pemula, senior dan sebagainya, bila satu media, ya cukup satu karya tulisan yang dihasilkan. 

Satu media satu tulisan bagi penulis juga memiliki subtansi lain agar kita sebagai penulis memiliki etika yang baik dalam mengirim karya tulis. 

Karena sepengetahuan penulis, ada warning yang jelas, jangan sampai satu karya tulis yang kita hasilkan, tetapi dikirim ke berbagai media. 

Bila digambarkan, di media “A” dan “B” kita kirimi satu karya tulis dengan tema dan pembahasan sama yang happy ending sama-sama tayang di dua media tersebut. Fenomena tersebut dinamakan double submission meminjam bahasa Dr. Eric Kunto Ariwibowo dalam erickunto.com.

Perilaku mengirim satu artikel ke bebagai media, hakikanya menyalahi etika menulis. Pengetahuan tersebut penulis dapatkan, kala banyak gumbul dengan para redaktur di Semarang. 

Secara jelas redaktur menyampaikan, penulis jenis tersebut tidak konsisten mengikhlaskan karya tulisnya untuk ditayangkan kepada media “A” sebagai contoh. 

Bahkan bila ada penulis yang masih ngeyel dengan perilaku tersebut, sepengetahuan penulis, Redaktur sebuah media akan mem-blacklist-nya manakala ada karya tulis lainnya  yang dikirim lagi ke email redaksi. 

Bentuknya bisa tidak ditayangkan dalam kurun beberapa bulan dan jenis lainnya. Itulah yang penulis tahu. Karena, ukuran pastinya variatif yang itu menjadi hak prerogative redaktur sebuah media.

Perlu diketahui, blaclist yang dilakukan Redaktur kepada  kita -sebagai penulis- bertujuan agar kita instrospeksi diri bahwa dalam mengirimkan karya tulis itu ada etikanya. Karena, ketika karya tulis kita tayang dimedia “A” sebagai contoh, itu sepenuhnya milik media tersebut dalam hal publisnya. 

Bila kemudian publis di beberapa media dengan modal satu karya, lalu dimana etikanya? Lalu bila media tersebut menyediakan apresiasi berupa honor, lalu satu karya tulisnya tayang di berbagai media, itu sama saja penulis tersebut meraup royalty dari berbagai media. 

Etika pengiriman satu tulisan satu media, hakikatnya memiliki fungsi positif agar kita semangat menelurkan kuantitas karya tulis. Adapun dampak negatifnya, penulis paparkan sebagai berikut:

Pertama, menjadi penulis tidak produktif. Dampak ini jelas dan memiliki sisi negatif untuk penulis pemula, mahir dan sebagainya. Apalagi, cita-cita memiliki banyak karya tidak akan pernah sampai. Itu karena, kita sebagai penulis terlalu pragmatis tidak ingin capek-capek melahirkan karya tulis. 

Padahal setiap hari, tema-tema tulisan berseliweran di otak kita. PR-nya adalah, mau apa tidak kita menangkapnya. Atau justru membiarkannya berlalu, yang kemudian muncullah rasa gelo manakala ide kita diracik oleh penulis lain dalam bentuk karya tulis.

Kedua, niat sebagai penulis masih setengah hati. Pesan penulis ini gamblang sekali, bila niat kita menjadi penulis masih setengah, satu karya yang dihasilkan seakan-akan sudah monumental sekali. Saking monumentalnya, kita tidak sadar mengirimkan ke media berbagai media.

Ketiga, penulis sepakat dengan tulisannya Dr. Erik, bila mengirimkan satu karya tulis yang kemudian dikirimkan keberbagai media itu jelas mamancing emosi editor. Ilustrasi sederhana yang penulis berikan begini. 

Jika penulis sebagai editor sedang mengedit tulisan “A” sebagai misal, setelah selesai mau dipublis atau pasca publis ternyata tulisan si “A” sudah atau baru saja terbit di media “B”, tentu bagaimana perasaan anda sebagai editor? 

Terhadap karya kita yang tidak kunjung ditayangkan redaksi, ada yang perlu diketahui oleh kita sebagai penulis. Kita harus sadar, kenapa karya tulis yang kita buat tidak lekas nongol-nongol? 

Apakah sudah senafas dengan media? Sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan atau belum? Atau, justru karena masih banyak kesalahan penulisan -tipo, kebakuan kata- yang itu menjadikan Redaktur wegah untuk mengedit naskah tulisan yang kita kirimkan hingga menayangkan. 

Hal-hal di atas perlu menjadi cerminan para penulis. Tujuannya, memperhatikan media yang akan dikirimkan senang dengan genre tulisan seperti apa dan sebagainya. 

Jika kecermatan tersebut tidak diperhatikan, tentu kita sebagai penulis akan puas sekadar bisa menulis. Padahal kualitas dan kuantitas saat mengarang sebuah karya tulisan perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Jika kita sebagai penulis sudah bisa menganalisis media “A” senang dengan konten tulisan dan gaya bahasa tutur begini. 

Lalu media “B” senang dengan style tulisan genre ini dan gaya bahasa begini sebagai misal, tentu hasil analisa tersebut harus dijadikan pedoman dasar para penulis terhadap karya tulis yang dibuat. Agar tidak lahir mindset menggebyah uyah semua media suka terhadap tulisan. 

Semoga, ulasan ringan ini memberi manfaat untuk kita semua.


Usman Roin, Penulis adalah Dosen PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *