GADGET-sebagai revolusi modernisme hari ini memang
tidak lepas dari kehidupan manusia. Ia menyasar siapa saja, tidak cukup orang
tua, kaum muda, laki-laki dan perempuan, melainkan sudah juga melekat pada
dunia anak zaman now.
Alasan utama gadget kenapa perlu dimiliki agar bisa kekinian, yakni mengikuti trend perkembangan zaman yang mau tidak
mau harus diikuti. Namun, alangkah agak miris bila gadget yang hari ini sudah
dimiliki oleh anak. Selain untuk meredam agak mereka tidak hiperaktif, juga
memudahkan sekali orang tua (utamanya Ibu) dalam mengasuhnya.
Hanya saja patut untuk direnungkan bahwa gadget
yang dimiliki anak ternyata bila tidak diarahkan dengan bijak hanya akan
membuat mereka malas untuk melakukan sesuatu. Lebih asyik berselancar dan dekat
dengan gadget dari pada dengan orang lain bahkan orang tuanya sendiri. Jika ini
dibiarkan, tentu masa depan anak akan terancam karena secara sosiali hanya
berkutat dengan gadget yang hakekatnya benda mati, bukan bertaut dengan
nilai-nilai kehidupan sesama manusia sebagai basis nilai humanisme dan local wisdom secara
komprehensif.
Bisa dibayangkan pula, bahwa lunturnya
sosialisasi sosial, lalu budaya bermain anak-anak yang konvensional, hari ini
seakan-akan langka kita temukan. Padahal, hubungan sosial dalam bentuk permainan
anak-anak secara konvensional, justru akan mempererat hubungan kemanusiaan yang
seakan-akan mau tergantikan dengan teknologi. Sehingga rasa kemanusiaannya
luntur secara pedagogik karena lebih memilih untuk bercengkrama dengan gadget.
Fakta tersebut memang patut menjadi renungan
bersama, agar jangan sampai pertumbuhan anak-anak menjadi terganggu oleh sebab gadget
yang dimiliki. Jangan pula anak tidak mengenal gadget, melainkan mempola agar gadget
menjadi bagian yang bukan utama dalam segala hal. Baik sebagai mesin pencari,
hiburan (game), hingga pelengkap modernism zaman.
Akhirnya, meletakkan gadget sebagai alat bantu itulah
yang perlu dilakukan orang tua zaman now. Bukan alat yang bisa
menggantikan cara mengasuh anak hingga kemudian potret perkembangannya menjadi
generasi instan dan bukan berdasar pada nilai humanis tetapi justru akan menumbuhkan intoleran kepada sesama.
Penulis adalah Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul
Ulama (Pergunu) Jawa Tengah
Tinggalkan Balasan