agama

Libur Puasa, Momentum Sinau

3 Menit Baca
grafis/aw

Puasa bagi saya adalah momentum sinau atau belajar kala libur. Terlebih, Unugiri yang memberi waktu libur Sabtu-Ahad, momentum tersebut tidak kemudian dimaknai libur segalanya. 

Maknanya, dalam menjalani puasa, bukan sekadar dibuat “Bangun tidur tidur lagi, bangun lagi tidur lagi, bangun tidur lagi ha ha ha” sebagaimana judul lagu “Bangun Tidur” Mbah Surip.

Wujud sinaunya, bisa dengan membaca buku-buku hingga artikel yang kini banyak tersaji di internet maupun yang hadir silih berganti melalui media sosial.

Dengan membaca buku, versi cetak perihal topik puasa yang sedang dilakoni, salah satunya karya M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Volume 1 (2000: 376), bisa digunakan untuk menahan diri dari bentuk-bentuk yang membatalkannya. 

Pada sisi yang lain juga bisa pula digunakan untuk memperkaya diri agar meski puasa, tidak kemudian menurunkan produktifitas dalam berkarya. 

Selain cetak, karya via internet –dalam hal ini situs online yang kredibel– seperti nu.or.id, bisa bisa dijadikan rujukan pula untuk memperkaya khazanah pemahaman lembar puasa yang sedang dijalani agar lebih bermakna.

Kemudahan mendapatkan bacaan berbasis online ini selain bisa diakses di mana saja dan kapan saja, juga memudahkan kita bilamana ada persoalan agama di mana kita belum mengetahui kala hal itu dipertanyaan kepada kita.

Alhasil, sekali klik, ratusan artikel akan didapatkan seketika. PR kita, meminjam bahasa Yunus Abidin dkk., dalam bukunya “Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis” (2018: 165) lakukan analisis dan sintesis informasi.

Menganalisis sendiri, memiliki makna menyelediki informasi yang diperoleh via online tersebut benar secara sumber; adapun menyintesisnya adalah melakukan perpaduan makna terhadap suatu pengertian berdasar sumber-sumber lain.

Berlomba-lomba

Selanjutnya dalam hal menulis, bisa berlomba-lomba dengan sesama kawan. Salah satunya adalah di group “Pena Blogger” yang saya buat. 

Kehadiran group tersebut dibuat untuk membikin anggota bersemangat menulis. Sehingga, memang kudu ada orang lain yang saling mengirim hasil tulisannya.

Dengan begitu, saya yang tidak bersemangat jadi tertantang untuk menyiapkan tulisan; kemudian bisa menghasilkan tulisan pula sebagaimana teman yang sudah melakukannya.

Tampaknya, hal ini sepele. Tetapi sepengetahuan saya, group ini efektif untuk saling memacu menulis. Apalagi, anggota di group tersebut bukan orang yang baru belajar menulis. Tetapi, sudah terstempel penulis beneran.

Jika sudah nyata stampel sebagai penulis, penyakitnya hanyalah satu, yakni mengistikamahkan diri dalam melahirkan karya tulis. 

Untuk itu, dengan mengingat pepatah Arab “Istiqamah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karomah dengan menjaga istiqamah” sesama anggota bisa produktif menulis.

Dan group –Pena Blogger, itu sengaja dihadirkan untuk memecut diri bahwa saya –utamanya momentum puasa ini, bisa istikamah membaca dan menulis meski di hari libur. 


3 Ramadan 1447 H/21 Februari 2026 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *