Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Profesionalitas Berpuasa

ilustrasi.man

usmanroin.com-Uraian kali ini perihal profesionalitas berpuasa. Mengapa? Penulis tertarik dengan penjelasan Abdul Wahid (2021:157) dalam bukunya berjudul “The Secret of Puasa”. 

Pada halaman tersebut, Wahid –sang penulis buku, menjelaskan bila dalam berpuasa aspek profesional kudu dijunjung tinggi. Lalu, apa indikator profesional yang bisa penulis sampaikan kepada pembaca.

Pertama, adalah niat yang tegas. Niat yang tegas, bila boleh penulis uraikan secara gamblang, kala kita akan berpuasa niatnya dilafalkan dengan tegas. Niat puasa Ramadan atau sunah.

Bahkan, bagi penulis, kala kyai, ustaz, yang membimbing jamaahnya untuk melafalkan niat puasa Ramadan baik di masjid dan musala atau tempat lainnya, adalah penegasan sekaligus pemberitahuan secara kolektif bila besuk akan melaksanakan puasa. 

Kemudian bagi individu, itu bisa menjadi penegas bahwa diri ini mau berpuasa. Jika sudah ada penegasan diri bila kita berpuasa –Ramadan, atau sunah Senin-Kamis sebagai misal, hal itu akan memberi pesan kepada anggota tubuh kesiapan untuk ikut mendukung pelaksanaannya.

Kedua, semangat menghimpun kekuatan. Perihal semangat menghimpun kekuatan, ini kalau boleh penulis uraikan ada hubungannya kepada indikator pertama. 

Secara logis, siapa pun yang sudah niat untuk mencapai sesuatu, ia akan menghimpun segala hal agar lekas berhasil apa yang dikehendaki. Begitu pula dengan puasa, bila sudah tegas berpuasa, proses menghimpun kekuatan untuk mempertahankannya akan dilakukan.

Gambaran konkritnya, manakala siang hari dengan terik matahari yang menyengat, kita yang lagi puasa mendapat tugas untuk membeli ini atau mengantar sesuatu, kemudian dalam perjalanan kembali ke rumah atau kantor melewati warung dengan setengah tirai terbuku, di sinilah akan ada pertentangan diri untuk menghimpun kekuatan agar tidak tergoda.

Pada posisi “ada pertentangan” inilah, sebenarnya kita lagi menghimpun kekuatan untuk tidak tergoda dengan segarnya es teh karena sedang puasa. Tentu, bila kita mudah tergoda, kita akan balik kanan menuju warung yang setengah tirainya terbuka untuk kemudian nyruput es teh.

Makna Profesional

Dua penjelasan yang penulis sebutkan di atas inilah yang dimaksud dengan profesional. Bila meminjam terminologi KBBI, profesional sendiri adalah pemerluan kepandaian khusus untuk menjalankannya. 

Bila kemudian dikorelasikan dengan puasa, artinya pengetahuan seluk beluk perihal puasa kudu diketahui. Mulai dari yang membatalkan puasa, hingga yang menghilangkan pahala puasa. Jika demikian, puasa yang dilakukan itu atas dasar pengetahuan dalam melaksanakannya. 

Untuk membekali agar puasa kita berbasis pengetahuan, tidak ada salahnya bila kita luangkan untuk banyak membaca pengetahuan perihal puasa. Bisa dengan membeli buku khusus yang membicarakan puasa untuk kemudian dibaca setahap demi setahap.

Atau pula melalui beberapa media online, sebagai misal nu.or.id, yang memiliki kolom khusus mengurai khazanah keilmuan perihal ibadah tidak terkecuali puasa Ramadan 1446 H yang sedang kita jalani kini. 

Langkah itu perlu dilakukan agar kesempurnaan dalam melakukan ibadah –khususnya puasa, bisa diwujudkan. 

Kemudian selain menjadikan kita dekat dengan predikat orang yang bertakwa (muttakin) sebagaimana dalam surah al-Baqarah [2]: 183, juga akan diraih pula kesuksesan hakiki sebagaimana dapat dilihat pula surah al-Baqarah [2]: 189, ali-Imran [3]: 130 dan 200.


* Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah, Unugiri.

: UR
: UR dosen bloger

Posting Komentar untuk "Profesionalitas Berpuasa"