Perpustakaan, Buku dan Simpul Menulis
![]() |
ilustrasi:man |
usmanroin.com-Usai mengajar di kelas 4B Prodi PAI, penulis mampir di Perpustakaan Unugiri.
Kala masuk, suasana penuh mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Penuhnya saat skripsian. Itulah hipotesis sementara penulis.
Memang seharusnya demikian. Perpustakaan kudu menjadi sarana meneliti. Bukan sekadar "penyimpan" koleksi yang sepi peminat.
Selain skripsian, juga terlihat mahasiswa yang sibuk menyelesaikan tugas makalah. Itulah amatan sederhana penulis.
Adapun penulis sendiri, selain menunggu mahasiswa menyerahkan naskah ujian, juga membaca, dan memposting tulisan di blog pribadi (personal blogger).
Apalagi, telah ada usulan dari rekan dosen, karena penulis produktif menulis dengan niat menyemarakkan hadirnya Ramadan, endingnya tulisan-tulisan tersebut miturut beliau baiknya dibukukan.
Penulis akui, memang terdapat keinginan sebulan penuh melahirkan karya tulis.
Alhasil, tema apapun yang hadir, akan penulis tulis. Ide yang kemudian muncul, penulis urai menjadi karya tulis utuh agar bisa dibaca panjenengan semua.
Tentu, untuk mewujudkan hal itu, akan banyak tantangan. Yang utama, kesediaan diri untuk tetap menulis. Ini, semacam keikhlasan untuk menyisihkan waktu ketik ide, kembangkan, edit, kemudian publish.
Guna melatih agar diri senantiasa “rela”, penulis kudu memupuk rasa cinta. Artinya, aktivitas menulis perlu penulis cintai dari waktu ke waktu.
Cara menumbuhkannya, penulis sempatkan membaca buku perihal manfaat menulis, dan berteman dengan penulis. Sehingga sebagaimana usaha tersebut, kemudian melahirkan kekayaan manfaat hingga menjadikan diri cinta menulis.
Khatam Baca Buku
Tepat, Rabu (6/3/25) pukul 21.30 Wib, buku berjudul "Guru Monyet: Bukan Guru Biasa" khatam penulis baca.
Buku setebal 296 tersebut, memang secara tematis mengajak penulis sebagai pembaca, menikmati cerita sang penulis yang berprofesi guru bahasa Perancis.
Jujur penulis nikmati apa yang disajikan. Karena, cerita yang ternarasikan, selain nyata juga inspiratif.
Buku terbitan Genius Media (2014), beberapa kali saat penulis mengajar kepada mahasiswa, penulis tunjukkan. "Ini buku menarik," ucap penulis saat opening pembelajaran.
Pertama, buku ini mengajak siapa saja untuk menulis. Bukan menuliskan kisah seseorang saja, melainkan kisah profesi yang dimiliki. Serta, kisah terdekat yang telah dilakoni.
Bagi penulis, buku ini menarik. Kita betul-betul diajak untuk menghargai diri bahwa apa yang kita alami ini berharga sekali. Cara menghargainya, adalah dengan mengabadikan dengan ditulis.
Meski hanya menceritakan "penulis" yang berprofesi sebagai guru bahasa Perancis, di sinilah kemahalannya.
Penulis buku seakan menyadarkan penulis, calon pembaca, dan pembaca yang sedang membaca tulisan ini, “Tolong, hargailah kehidupan yang telah pembaca alami dengan menuliskannya. Agar, ada sisi hikmah yang bisa diambil”, begitulah kira-kira benang merahnya.
Kedua, menjadi guru inspiratif. Penulis, senantiasa mengajak kepada mahasiswa untuk senantiasa menjadi inspirasi kepada sesama.
Kepada mahasiswa penulis bertutur, “Esok, panjenengan semua akan menjadi guru agama Islam”.
Untuk menjadikan panjenengan bukan guru agama Islam yang biasa, tentu pengetahuan harus banyak dipelajari.
Sikap, kudu banyak mencontoh kepada pendidik yang menginspirasi. Sementara keterampilan, kudu terus dilatih dan latih, agar panjenengan beda dari guru agama Islam yang kini ada.
Bila tiga komponen di atas disiapkan, esok kala menyandang gelar S1, panjenengan akan menjadi inspirasi kerena memiliki pengetahuan lebih, sikap yang baik, serta keterampilan yang mumpuni untuk menjawab tantangan zaman.
Untuk mewujudkan hal itu, dosen perlu banyak membaca –salah satunya buku di atas, agar terispirasi. Selanjutnya, bisa menginspirasi mahasiswa sebagai calon pendidik agama Islam mendatang. Amin ya rabbal ‘alamin.
*Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
Posting Komentar untuk "Perpustakaan, Buku dan Simpul Menulis"