Menaikkan Baca Saat Berpuasa
![]() |
ilustrasi.man |
usmanroin.com-Apakah membaca, telah pembaca lakukan saat puasa? Pertanyaan kecil yang menyentil ini, patut kita alamatkan kepada diri kita.
Mengapa?
Penulis ingin mengajak “membaca” jadi bagian dari prilaku diri. Ia menjadi aktivitas rutin –tidak hanya sekali, yang dilakukan saben individu.
Wujudnya, penulis dan juga pembaca rutin dan membudayakan baca di mana pun dan kapan pun. Agar itu terwujud, tentu momentum puasa ini bisa menjadi start yang pas.
Lalu, apa yang kudu dibaca saat menjalankan ibadah puasa?
Pada prinsipnya bacaan apapun bisa dikonsumsi untuk dituntaskan. Hanya yang lebih pas bagi penulis, adalah menambah pengetahuan perihal ibadah puasa di bulan Ramadan.
Tujuannya, agar puasa yang dijalankan tidak sekadar mengutamakan domain fisik. Yakni menahan tidak makan, minum, dan mengekang syahwat di waktu siang. Melainkan, bertujuan untuk menjadikan puasa yang dijalani berkualitas.
Agar semangat membaca meningkat kala menjalankan ibadah puasa, pembaca bisa memilih buku-buku yang secara topikal membahas seluk-beluknya ibadah tersebut secara komprehensif.
Sebagai contoh buku Abdul Wahid berjudul “The Secret of Puasa” (2021) yang penulis miliki.
Atau karyanya Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berjudul “Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari” yang spesifik terdapat pembahasan khusus bab puasa dari halaman 02-471, dan sudah diterjemah dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Azzam (2004).
Bila tidak memiliki buku, pembaca bisa meminjam buku perihal ibadah puasa baik di perpustakaan kampus bagi yang mahasiswa atau dosen, kemudian pelajar bagi yang di sekolah atau madrasah, dan masyarakat umum ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dis Perpus Sip) Bojonegoro.
Literatur Online
Hal yang lain, agar membaca di bulan Ramadan meningkat, juga bisa dilakukan secara online. Terlebih, membaca khazanah keislaman akan menjadi indah ketika hal itu dilakukan menjelang buku puasa.
Selain bersemangat oleh karena detik-detik buka puasa akan segera tiba, pengetahuan hasil baca juga kita dapatkan sebagai penjaga kualitas puasa.
Bila digambarkan secara waktu, pukul 17.00 Wib sangat cocok digunakan untuk membaca hingga tiba buka puasa.
Terhadap perilaku membaca yang terakhir ini, penulis lakukan secara online melalui media nu.or.id. Dari tulisan-tulisan yang disajikan, bagi penulis membantu menambal sisi kekurangtahuan perihal puasa.
Melalui media tersebut pula, pembaca juga akan disuguhkan perjuangan para tokoh yang berjasa di masa Nahdlatul Ulama (NU) dari sekarang hingga tempo dahulu.
Kemudian bagi yang senang memberi kuliah tujuh menit (kultum), pada kanal tersebut juga terdapat kolom Ramadan yang berisi ‘Kultum Ramadan’.
Penulis yang membaca bisa ketambahan pengetahuan sebagai bahan berceramah, yang juga bisa diakses via gadget secara langsung hingga melalui PC atau laptop.
Hasil bacaan baik dari buku, membaca dari media online-cetak, kemudian menonton kajian live youtube, adalah alternatif untuk ikut mengisi puasa yang kita jalani dengan berbagai hal yang bermanfaat. Apalagi pada tulisan sebelumnya, atas prilaku tersebut penulis menyebut sebagai profesional berpuasa.
Sarana menambah pengetahuan juga bisa dilakukan dengan hadir langsung pada kajian-kajian rutin menjelang berbuka puasa yang kini menjamur dilakukan.
Tidak terkecuali masjid di kampung penulis Masjid Al-Falah Dusun Ngantulan, Desa Bulu, Kecamatan Balen, mulai dari Ramadan pertama hingga terakhir semarak dengan kajian menjelang buka puasa.
Semoga budaya baca yang tersurat –buku, khazanah keislaman via online dan youtube, bisa menjadikan kualitas meningkat puasa. Baik dari tahun yang lalu, maupun puasa yang kini sedang dilalui. Amin ya rabbal ‘alamin.
* Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah, Unugiri.
Posting Komentar untuk "Menaikkan Baca Saat Berpuasa"