Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membaca, Tirakat Mengisi Malam Ramadan

ilustrasi:man

usmanroin.com-Di malam Ramadan 1446 H ini, penulis coba isi dengan membaca buku. Utamanya, buku pengambangan diri. Hal itu, sebagai upaya menyiapkan diri bagaimana menjadi pendidik yang baik, dan syukur bisa inspiratif. 

Penulis sadar, pasca membaca buku, apa yang penulis ketahui “sekan-akan” masih sedikit. Apakah hal ini hanya penulis saja yang mengalami, atau pembaca juga merasakannya?

Seakan-akan, yang “belum” diketahui masih banyak. Sehingga mengilhami diri untuk banyak meluangkan waktu membaca buku, utamanya di malam puasa.

Satu hal yang penulis rasakan, bila membaca malam hari itu sangat “mengena” terhadap apa yang ingin disampaikan penulis buku. 

Itu karena, malam yang hening, dan orang sudah pada tidur, kadang ada yang mendengkur, membuat otak fokus menikmati makna setiap kalimat dari halaman perhalaman buku.

Aktivitas –membaca, semakin semangat oleh provokasi buku Asrul Right berjudul “Survival Teacher” (2021). 

Di halaman 148, tepatnya tema “Literasi (Bukan) Slogan” ditegaskan, bila kita semua perlu ambil peran meningkatkan minat baca. Salah satunya, kita menjadi teladan untuk gemar membaca terlebih dahulu.

Praktik (Bukan) Teori

Apa yang penulis lakukan, yakni membaca buku di malam Ramadan, adalah praktik nyata. Bukan teori. 

Celakanya, kadang kita sebagai pendidik –guru, dosen; meminta kepada siswa-mahasiswa membaca buku-jurnal ini dan itu, tetapi kita “lupa” tidak membaca. 

Ini yang kemudian penulis sebut sebagai teori. Dalam bahasa lain asal bunyi (Asbun). Ayo membaca! Ayo membaca! 

Tetapi, yang mengajak luput dari membaca. Jadinya sebatas konsep ajakan membaca, yang tidak terwujud praktik nyata dari diri kita sebagai pendidik.

Perihal membaca di malam Ramadan, penulis ngiras-ngirus menghidupkan malam Ramadan dengan perilaku baik. Tujuannya, sebagai pengampun dosa atas kebodohan penulis. Oleh sebab, banyak pengetahuan yang belum diketahui. Itu saja simpelnya.

Hal ini sebagaimana hadis Rasul Saw riwayat Imam Bukhari, “Barang siapa beribadah di bulan Ramadan dalam keadaan beriman dan mencari pahala, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni”.

Terhadap hadis di atas, penulis tertarik dengan ulasan Syihabuddin Ahmad Al-Qasthalani dalam kitabnya “Irsadus Sari” (1996:178), bila bentuk menghidupkan malam Ramadan, bisa dengan melakukan ketaatan seperti menjalankan sunah tarawih-witir, tahajud dst., atau ketaatan lainnya murni karena Allah. 

Sehingga, dosa atas kebodohan kita semoga diampuni Allah Swt.

Pada posisi ini, penulis ingin mempraktikkan keterangan pada makna “.. ketaatan lainnya ..” dalam wujud belajar atau membaca. 

Apalagi, perihal mencari ilmu, di surah An-Nahl [16]:43, Allah Swt menganjurkan kita bertanya kepada orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Hal itu jika kita kurang, hingga tidak, atau belum mengetahui perihal ilmu. 

Oleh karena penulis masih banyak pertanyaan perihal menjadi pendidik yang baik, dengan membaca buku sebagaimana penulis sebutkan judulnya di atas, penulis jadi tahu. 

Untuk kemudian setelah mengetahui bagaimana menjadi pendidik yang baik, penulis ingin coba praktikkan, agar tidak mangkrak sekadar “punya” pengetahuan belaka.

Selain firman Allah Swt di atas, kita bisa merujuk kepada literatur hadis perihal kewajiban menuntut ilmu. Salah satunya riwayat Al-Baihaqi bahwa Rasulullah Saw bersabda “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam”.

Bila Allah Swt dan Rasulullah Saw melalui ayat dan hadis di atas memerintahkan kepada kita untuk mencari ilmu, menurut Bukhari Umar dalam bukunya “Hadis Tarbawi: Pendidikan dalam Perspektif Hadis” (2014:7), Allah Swt sungguh arif menggunakan ungkapan bervariasi agar proses mencari ilmu itu tetap dilakukan siapa pun dan kapan pun.

Salah satunya menurut beliau –Bukhari Umar, Allah Swt menggunakan kata perintah agar manusia membaca. 

Itu karena, dari kegiatan membaca yang dilakukan akan menghasilkan pengetahuan, sebagaimana bisa kita tilik di surah Al-‘Alaq [96]:1-6.

Selain menggunakan kata perintah untuk membaca, terkadang Allah Swt juga memakai perintah agar kita mengamati fenomena alam semesta, sebagaimana dalam surah Al-Ghasyiyah [88]:17-20. 

Sebab, dari pengamatan yang dalam bahasa Sugiyono di buku “Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan R&D” (2016:225) disebut observasi, adalah salah satu macam teknik dalam penggalian data terhadap apa saja yang nampak. 

Sehingga terlahir ilmu pengetahuan terkini hasil dari amatan intensif yang kita lakukan.

Bahkan dalam penegasan Nasution –yang dikutip Sugiyono (226), bila pengamatan (observasi) adalah dasar semua ilmu pengetahuan. 

Ilustrasi beliau, bila ilmuan akan bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai kenyataan yang terjadi di dunia melalui pengamatan.

Sehingga fakta –atas data yang dikumpulkan, ilmuan menggunakan berbagai peralatan canggih. Tidak ayal, benda dalam ukuran kecil –sebagai misal proton dan elektron, maupun yang jauh –berupa benda ruang angkasa, dapat diamati dengan jelas menjadi pengetahuan terkini.

Kemudian di tempat lain, Allah Swt memotivasi dengan diksi (pilihan kata) agar kita semangat belajar –sebagaimana surah Al-Mujadilah [58]:11. Sebab, berdasarkan ayat tersebut, Allah Swt mengangkat derajat orang beriman dan yang berilmu pengetahuan.

Akhirnya, tirakat membaca, adalah bentuk ikhtiar ibadah untuk menghidupkan malam Ramadan guna meraih lailatul qodar. 

Kemudian selain untuk menghapus kesalahan diri –oleh kebodohan karena terbatasnya pengetahuan, juga praktik jelas untuk senantiasa mencari ilmu melalui pemanfaatan waktu secara optimal.

Semoga ada guna renungan sederhana ini. Amin ya rabbal ‘alamin.


* Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.

: UR
: UR dosen bloger

Posting Komentar untuk "Membaca, Tirakat Mengisi Malam Ramadan"