Istirahat Puasa dan Kuliah Luring
![]() |
ilustrasi:man |
Lain halnya sebelum puasa –setelah jamaah zuhur, musala lengang. Yang ramai adalah "warung pergerakan" di belakang Kantor PCNU Bojonegoro.
Kita perlu mengetahui, mengutip laman halodok.com, bila istirahat siang di tengah kondisi puasa perlu dilakukan antara 5 hingga 10 menit, agar tubuh tetap fit atau mampu bertahan melakukan aktivitas.
Apalagi, bagi mahasiswa yang tengah belajar dari pagi, akan terasa lemas, ngantuk, bila tidak mengistirahatkan karena menahan lapar dan minum sebagai tanggung jawab berpuasa.
Belum lagi perjuangan untuk menghadiri perkuliahan, mulai yang berdomisili dari Kabupaten Tuban dan Bojonegoro sendiri, membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Bila itu dilakukan saat puasa, istirahat yang dilakukan selain mengembalikan kebugaran diri dari capek aktivitas pembelajaran, juga dalam rangka mengirit tenaga agar tutuk hingga buka puasa tiba.
Kuliah
Bicara kuliah di bulan Ramadan, satu sisi menarik bila diulas secara ilmiah. Mengapa tidak daring saja dilakukan? Toh waktunya juga dipendekkan!
Secara praktis, memang saat puasa cocok bila kuliahnya daring. Bahasa lainnya online. Alasan utama adalah puasa yang identik dengan lemas, lapar, akan merembat kepada rasa malas untuk melakukan apapun. Salah satunya, adalah kuliah.
Tetapi, coba panjenengan baca buku karya Prof. Zakiah Daradjat berjudul "Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental" (1996).
Di halaman 25, beliau menyebutkan bila hikmah puasa adalah melatih diri dengan sengaja untuk "tidak" memenuhi kebutuhan pokok jasmani pada waktu yang biasa.
Logika yang ingin disampaikan oleh Prof. Zakiah adalah, bila kita berpuasa betul-betul ikhlas kepada Allah Swt, dengan tidak terpenuhinya hal-hal pokok yang menjadi kebutuhan sehari-hari, kita akan menemukan pelajaran dan latihan untuk terampil menghadapi kesulitan.
Dalam kontek menjalani hidup pasca Ramadan, bila selama puasa saja kemampuan untuk menghadapi dorongan dan kebutuhan jasmani sukses diraih, secara berangsur-angsur akan bisa digunakan pula untuk menghadapi kebutuhan pokok kejiwaan dan sosial yang dalam kehidupan normal tidak dapat diatasi.
Dalam penjelasan berikutnya halaman 24, Prof. Zakiah, menyampaikan bila orang yang selama hidupnya –kecil manja, penuh kasih sayang dari orang tuanya; tidak mengalami hambatan apapun dalam mencapai keinginan, orang jenis tersebut menurut beliau akan sering mengalami tekanan hidup.
Tekanan itu akan selesai bila dituruti dan terkabulkannya permohonan yang diinginkan.
Di sinilah makna puasa "menghilangkan" ketertekanan diri oleh tidak terpenuhinya kebutuhan. Termasuk juga, ketertekanan kubutuhan kuliah luring atas daring. Ha..ha..!
*Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
Posting Komentar untuk "Istirahat Puasa dan Kuliah Luring"