Padhang Pikiranku dengan Membaca
![]() |
Padhang (ilus:usman) |
usmanroin.com-Bagi yang masih malas membaca, mungkin tulisan ini bisa dilirik terlebih dahulu. Agar dengan membacanya, panjenengan bisa menemukan kecerahan pikiran –atau padhang dalam istilah Jawa.
Tulisan ini adalah pengalaman penulis dan spesial dibuat untuk panjenengan.
Penulis merasakan padhang pikiran, setalah aktivitas membaca dilakukan. Bahkan kala ada slot waktu, meskipun itu sedikit, penulis mencari-cari buku untuk kemudian membaca.
Apa yang penulis lakukan hakikanya muncul dari kesadaran diri. Terlebih, setelah menuntaskan bukunya Syahrul (2021:86) berjudul “Jatuh Sekali, Bangkit Berkali-kali” tertulis jelas bila cara cerdas untuk menjaga otak agar tetap sehat adalah dengan membaca buku.
Sedangkan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat, adalah dengan berolahraga.
Nasehat perihal membiasakan baca agar otak sehat, keren bagi penulis. Panjenengan sudah saatnya sadar, untuk menjadi pintar tidak mungkin dilakukan tanpa membaca. Apalagi, cuman sedikit membaca.
Perlu diketahui, dengam membaca, wawasan panjenengan akan bertambah, kemudian tata bahasa menjadi runut (tertata) dengan baik, lalu kosa kata menjadi berlimpah secara kuantitas.
Semua itu, perlu panjengan sadari dari hasil membaca yang akan penulis urai sederhana satu persatu.
Pertama, wawasan bertambah. Hasil membaca, itu seperti mengisi (input) aneka informasi yang belum kita ketahui untuk kemudian menjadi tahu, dan sangat mengetahui (memahami).
Setelah tahu hingga sangat mengetahui, pengetahuan tersebut menjadikan diri tercerahkan. Sehingga, panjenengan mengerti harus berbuat apa serta bagaimana menghadapi tantangan hidup secara baik mendatang.
Kedua, tata bahasa sistematis. Perihal tata bahasa yang sistematis, yang ingin penulis sampaikan kepada panjenengan, adalah penyampaian pesan yang tidak bertele-tele.
Dalam bahasa Jawa dikenal istilah ngalor-ngidul, atau tidak langsung kepada pokok tema bahasan yang ingin disampaikan.
Tata bahasa sistematis itu terjadi, karena pengetahuan yang telah terinstal di otak seakan-akan menunjukkan secara otomatis (mekanis) mana-mana saja poin yang perlu dan tidak untuk dipaparkan.
Jika hal itu dilakukan, tentu audiens tidak akan menjadi malas yang dalam istilah sekarang familiar disebut boring atau membosankan.
Kosakata Berlimpah
Ketiga, kosakata menjadi berlimpah. Dalam hal bertambahnya kosakata –hasil dari membaca, penulis merasakan betul kala berbicara di depan umum.
Tepatnya, kala mengisi materi-materi perihal kepenulisan ataupun topikal sebagaimana permintaan (request) penyelenggara.
Pengetahuan hasil baca yang telah mengendap di otak, membantu mengartikulasi –yang dalam KBBI diartikan mengucapkan kata-kata dengan jelas dan tepat, lugas, serta menambah kepedean berbicara di depan umum (public speaking).
Seakan-akan seperti tidak habis. Itu karena, injeksi kosa kata selalu mengalir dari otak yang kemudian disampaikan secara oral (ceramah).
Jika demikian, dengan banyak membaca, pengetahuan panjenengan terkait apapun semakin bertambah. Semakin terang pikirannya.
Bila sudah terang pikiran, panjenengan akan semakin dewasa bersikap. Setelah dewasa bersikap, mengantarkan kepada perilaku cerdas (positif) dan bisa menghidar dari perilaku tidak terpuji (negatif).
Lebih dari itu, penulis kuatkan kembali apa yang disampaikan oleh Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D., (2004) dalam bukunya “Antologi Studi Agama dan Pendidikan”.
Di halaman 70, Prof. Dur –panggilan akrab beliau, memaparkan bila ajakan simbolis “bacalah” pada ayat 1-3 menunjukkan pada penulis dan panjenengan bila manusia diajari oleh Allah Swt sesuatu yang tiada satu orang pun tahu, serta tidak mungkin tahu dengan caranya sendiri.
Jika demikian, agar wawasan kita bertambah, terdapat perangkat bahan bacaan untuk dibaca.
Karena tanpa perangkat –dalam hal ini buku serta sumber pengetahuan yang dibentangkan kekinian via online, penulis dan panjenengan tidak akan mungkin tahu apa-apa. Yang dalam terminologi Jawa, diistilahkan dengan peteng (gelap).
Bahkan menurut beliau –Prof. Dur, aktivitas membaca selain menghasilkan pengetahuan yang memadhangkan manusia, juga menunjukkan satu kemampuan unik manusia lain untuk digunakan menyebarluaskan dan meneruskan via tulis-menulis –qalam dalam surah al-Alaq, berbentuk akumulasi pengetahuan yang berkesinambungan dari generasi ke generasi.
Dua buku yang penulis sebutkan di atas, bila panjenengan ingin tahu, penulis pinjam dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dis Perpus Sip) Kabupaten Bojonegoro.
Inilah mungkin cara cerdas –selain membeli bilamana ada rezeki, agar aktivitas membaca tetap bisa dilakukan.
Karena Dis Perpus Sip, berdasarkan data.bojonegorokab.go.id, di tahun 2022 saja telah memiliki 24.947 ribu koleksi.
Kerena kan!
Jadi, ayo membaca agar wawasan diri bertambah dan pikiran menjadi padhang.
* Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
Posting Komentar untuk "Padhang Pikiranku dengan Membaca"