Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dinamai Penulis, itu Istikamah Menulis

Pena dan Kertas (ilus:usman)

Mungkin, Anda kira, kala orang punya banyak karya tulis itu hanya sekali dalam menulis. Tidak kawan!.

usmanroin.com-Penulis itu identitas. Ia menunjukkan jati diri seseorang yang menekuni aktivitas menulis. Mudahnya, ia selalu dan selalu melahirkan karya tulis untuk dibagikan kepada publik. 

Ia tidak hanya sekali menulis, ditayangkan, dan setelah itu pensiun tidak menulis. Tetapi, ia selalu tergerak untuk menuangkan gagasan yang muncul berwujud tulisan yang bisa dinikmati banyak orang. 

Asah Kritis

Kala kita menulis, hakikatnya kita ingin menuangkan pikiran. Tentang apa? Jawabannya perihal apapun yang terjadi di sekitar kita. 

Artinya, sesuatu yang terjadi itu butuh untuk dianalisis. Mengapa ini terjadi? Dampaknya apa? Dan sederet pertanyaan investigatif yang bisa dijelentrehkan berikutnya. 

Atas temuan jawaban dari pertanyaan tersebut, kemudian kita deskripsikan menjadi tulisan utuh, inilah karya tulis yang lahir dari ketidakdiaman atas fenomena yang terjadi. 

Jika demikian adanya, segala peristiwa yang terjadi kekinian adalah sumber ide. Itu yang mengatakan adalah Syamsu Hawa dan Irawan Senda (2011:42) dalam bukunya “88 Kita Menjadi Penulis Hebat”.

Bahkan menurut beliau pada halaman yang sama, kala kita melakukan observasi diri, itu bisa dijadikan ide tulisan. Saya kasih contoh dari pengalaman beliau.  

Syamsu Hawa dan Irawan Senda (43) menceritakan, bila tahun 2006 dia menulis buku berjudul “Siap-siap Nikah” karena saat itu dia memang sedang ingin menikah, serta sedang banyak-banyaknya membaca buku perihal persiapan menikah. 

Dia hanya berpikir, apa salahnya sambil mempersiapkan pernikahan untuk diri sendiri dia menulis buku, untuk kemudian dibagikan kepada orang lain. 

Alhasil, hal luar biasa terjadi, tepatnya saat buku tersebut terbit, dia menemukan pasangan hidup yang akhirnya menikah.

Pengalaman berikutnya, adalah pengalaman saya sendiri. Kala saya ingin menulis sosok disebut penulis, saya melakukan observasi diri sebagaimana teorinya Syamsu Hawa dan Irawan Senda. 

Pengalaman-pengalaman  melahirkan karya tulis yang berkali-kali itulah kemudian saya rangkum. Untuk kemudian saya sajikan secara naratif (cerita), hingga kemudian lahir tulisan baru yang bisa dinikmati siapa saja yang membaca.

Dari dua contoh yang saya berikan inilah kita bisa memberi catatan tebal. Saat Syamsu Hawa dan Irawan Senda siap-siap ingin menikah, ia tuangkan perihal persiapan itu berwujud tulisan. Ia tidak kemudian santai begitu saja sekadar berpangku tangan mempersiapkan diri ingin menikah.

Pengalaman-pengalaman hasil baca perihal apa saja yang kudu dipersiapkan untuk menuju pernikahan tidak cuman diendapkan di otak. Tetapi dibingkai, didokumentasikan dengan kata-kata hingga akhirnya berbuah buku.  

Nalar kritis yang bisa diambil adalah, keinginan dia untuk menikah tidak ingin seperti kebanyakan orang. Melainkan pengalaman yang sedang dilakoni dia pilih untuk dibukukan. 

Tujuannya, agar orang lain yang belum mengetahui bagaimana cara mempersiapkan pernikahan jadi tahu setelah membaca karya buku tersebut.

Begitu juga dengan pengalaman saya jatuh bangun ingin melahirkan tulisan, tidak berdiam diri menunggu hadirnya ide. Tetapi, saya mencari dengan mambaca ragam informasi media online, hingga konten-konten yang viral di media sosial. 

Tidak berhenti di situ saja, agar apa yang saya sajikan punya kedalaman hingga ruh, saya insertkan berbagai literatur. Mulai dari buku, hasil penelitian yang publish di jurnal ilmiah, hingga berita-berita dan artikel yang ditulis oleh orang yang expert di bidangnya.

Produktif

Setelah setiap ide yang berseliweran kita bingkai menjadi karya tulis, disinilah kita dikata produktif menulis. 

Meminjam bahasa pemilik penerbit buku Mitra Karya, M. Bagus Ibrahim, kala memberi testimoni buku saya berjudul “Falsafah Menulis: Esai-esai Kontemplatif Menjadi Penulis Produktif” (2024) mengatakan, bila saya adalah figur seorang penulis yang istikamah menulis berkali-kali, tidak hanya sekali.

Saya coba sajikan data, semoga menginspirasi bila kita dikata penulis jangan hanya sekali. Tetapi senantiasa menulis setiap saat, lagi dan lagi.

Berdasarkan tabel di atas, dalam kurun 13 tahun –dari 2012-2024, tulisan yang saya hasilkan sudah ada 212 baik tayang di media cetak hingga online. Sementara, untuk tahun 2025 sendiri juga sudah ada tulisan yang publish di media massa. 

Jika demikian, menulis setiap saat saya lakoni. Hingga setiap tahun, Allah Swt kasih kekuatan untuk menghasilkan karya. 

Perihal label penulis, bukan diberikan secara acak. Atau tidak berbasis data. Label itu juga tidak lahir dari pengukuhan diri. Melainkan, penghormatan orang lain yang memperhatikan bila kita istikamah dalam menulis sehingga layak disebut penulis.

Mari istikamah menulis agar menjadi penulis.


* Usman Roin, adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri

: UR
: UR dosen bloger

Posting Komentar untuk "Dinamai Penulis, itu Istikamah Menulis"