Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perpustakaan Tas

Perpustakaan Tas (ilus.usman)

usmanroin.com-Jujur, penulis terinspirasi beberapa hari yang lalu –Jumat (22/11/24), saat ngobrol dengan mas M. Bagus Ibrahim di warung pak Tolib, tepatnya belakang Kantor PCNU Bojonegoro. 

Apa yang membuat penulis terinspirasi? Kala menunggu hujan reda yang turun deras sore hari, mas Agus begitu penulis memanggil akrab beliau, membuka tas yang di dalamnya terdapat enam koleksi buku. 

Pikiran penulis, melihat apa yang dikeluarkan dari tas, ternyata buku yang dibawa beliau banyak. Alhasil, muncullah ide, apa ini yang dinamakan perpustakaan tas? 

Saking penasarannya, penulis iseng ketik “perpustakaan” di aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Berdasarkan penulusuran, tampak 11 klasifikasi perpustakaan yang ditampilkan. Mulai dari perpustakaan acuan, akademik, digital, filial, hibrida, keliling, khusus, mini, nasional, rujukan dan umum. 

Adapun untuk “perpustakaan tas”, bagi penulis bisa menjadi alternatif penambah klasifikasi sebagaimana yang telah ada secara kompromistis, atau sebagai jalan tengah (wasathiah/moderat) dimasukkan pengertiannya sebagaimana klasifikasi di atas. 

Sekadar menyebutkan buku yang dikeluarkan mas Agus dari tas, ada karya Rusdi Mathari berjudul “Merasa Pintar, Bodoh saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madur”, Agus Noor dkk., “Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008”, Komunitas Ibuku Content Creator “Regam Cerita Ibuku si Content Creator”, Budi Maryono “Guru yang Melekat dalam Ingatan”, serta Phutut EA berjudul “Dunia Kali”.

Hal Sama

Perilaku yang sama, juga dilakukan oleh mas Nanang Fahrudin. Beliau selain jurnalis, pencinta buku-buku sastra tempo dulu, juga guru –penulis, dalam hal menulis artikel ilmiah populer untuk media massa. 

Tas mas Nanang yang dibawa bekerja –kala penulis bertemu di Dinas Kominfo Bojonegoro, juga tidak luput berisi buku. Sempat buku tersebut penulis abadikan dengan memotret covernya yang berjudul “Canting”, karya Arswendo Atmowiloto (1986). 

Dua contoh perilaku mengisi tas dengan buku, selain perlengkapan bekerja –laptop, iPad dan sebagainya, ini menarik bagi penulis. Persepsi penulis, beliau ingin menunjukkan bila membaca buku itu bisa dilaksanakan di mana pun dan kapan pun.

Perihal membaca sendiri, menengok apa yang disampaikan Dedi Purwana dan Agus Wibowo (2019:9), bahwa masyarakat di negara-negara maju –seperti Jepang, Inggris, manakala ada waktu senggang di tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal, dan di dalam kendaraan umum, mereka gunakan untuk membaca. Mereka selalu membawa buku untuk dibaca pada tempat publik.

Menjadi lain –di negara kita, waktu luang yang ada jarang digunakan untuk membaca buku. Yang dilakukan justru mengobrol, sibuk bermain alat elektronik – dalam hal ini gadged, dan tidur, meski ada beberapa yang membaca koran.  

Kembali prihal tas –yang didalamnya ada buku-buku bacaan, bagi penulis memunculkan ide kreatif, bila dari diri sendiri, kita bisa memerankan sebagai “perpustakaan” atau tempat yang menyediakan koleksi buku serta bisa dibawa ke mana-mana alias keliling (mobile). 

Sehingga kala berjumpa dengan teman, buku tersebut bisa diperlihatkan untuk kemudian dibaca sekadar mengisi waktu luang agar bermanfaat menambah wawasan, serta memunculkan kecintaan terhadap buku sebagai upaya membangun literasi membaca di mana saja. 

Kehadiran perpustakaan tas menjadikan kita tidak perlu takut, bahwa untuk membaca kudu pergi ke perpustakaan umum, daerah, atau kampus terlebih dahulu. 

Justru koleksi dari buku yang kita miliki, bisa kita ulang untuk dibaca kembali (re-read). Hal itu sebagaimana perilaku yang ditampilkan oleh mas Nanang kala bercerita kepada penulis, Kamis (21/11/24).

Atau, sengaja mengoleksi buku karya seseorang yang kemudian dibawa di tas, sehingga kala ngobrol bersama, hal itu bisa ditunjukkan. Perilaku itu, sebagaimana dilakukan oleh mas Agus yang memiliki penerbit buku Mitra Karya di Soko, Tuban. 

Akhirnya, “perpustakaan tas” bagi penulis adalah ide responsif. Kalau mau dibilang ngawur, sepenuhnya juga tidak benar. Yang setuju monggo dan yang tidak monggo. Karena, hakikat tulisan ini sekadar ingin menghibur, bila keberadaan “perpustakaan tas” nyatanya sudah dipraktikkan banyak orang. 


* Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah, Unugiri.

: UR
: UR dosen bloger

Posting Komentar untuk "Perpustakaan Tas"