Nilai yang Didapat dari Membingkai Portofolio Diri
![]() |
Ilustrasi (by.usman) |
usmanroin.com-Ternyata, portofolio –yang oleh KBBI diartikan tas/tempat menyimpan untuk surat-surat, pasca kita mengikuti berbagai kegiatan penting sekali. Kini, hal itulah yang penulis rasakan.
Dulu, kala penulis mengikuti kegiatan walau hanya sebagai "peserta", saat ini nilai kemanfaatannya penulis peroleh. Dalam benak penulis, kala itu penulis sekedar ikut dan mengalir saja jika ada kegiatan pelatihan, sarasehaan, seminar maupun bentuk lain.
Setelah penulis membuka “arsip sertifikat atau pigam penghargaan” yang hingga kini masih tersimpan rapi, penulis baru sadar, bila jejak-jejak mengikuti kegiatan tersebut telah secara pelan-pelan (soft) menjadikan keterampilan diri terbentuk.
Coba pembaca lihat uraian berikut, deskripsi portofolio –atau penulis istilahkan sebagai rekam jejak mengikuti kegiatan yang dibuktikan dengan sertifikat atau piagam penghargaan.
Sebagai Peserta
Perihal menjadi "peserta", pasca penulis membongkar dokumen pribadi, ternyata terdapat enam kegiatan yang pernah penulis ikuti. Menariknya, semuanya fokus pada keterampilan menulis.
Sebagai contoh, menjadi peserta "Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa & Umum" oleh Komunitas Wartawan Provinsi (KWP) Jawa Tengah di Gedung Pers, Semarang (12-13/6/2012).
Lalu peserta "Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2013 Gerakan Santri Menulis" oleh Koran Suara Merdeka di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang (14/7/2013).
Kemudian peserta "Pelatihan Penulisan Artikel" oleh Kompas dan HokBen di Upgris, Semarang (13/5/2016).
Dilanjut peserta "Seminar Nasional Cara Mudah Menulis bagi Guru" oleh Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Jawa Tengah di SMA N 3, Semarang (9/7/2017).
Ada lagi menjadi peserta "Pelatihan Menulis Artikel Ilmiah Populer" oleh Koran Pagi Wawasan, Semarang (23/12/2017).
Adapun yang terakhir peserta "Pelatihan Jurnalistik Berbasis Website" oleh Tim Penelitian dan Pengabdian Ilmu Pendidikan bekerjasama dengan Pergunu Jateng di LP2M Unnes, Semarang (29/9/2018).
Sebagaimana uraian di atas, dari enam kegiatan –sebagai “peserta”, tidak tahu mengapa fokusnya kepada menulis.
Benak kecil penulis, mungkin Allah Swt telah menunjukkan "kini" inilho kegunaannya. Yakni, belajar produktif menjadi penulis serta diminta mengampu mata kuliah jurnalistik yang ada di Prodi PAI.
Perihal –sebagai pengampu mata kuliah jurnalistik, portofolio menjadi “peserta” dalam berbagai kegiatan “jurnalistik” yang oleh Rahmat Patuguran & Saroni Asikin (2020:6) diartikan dengan aktivitas menghimpun, mengolah dan mempublikasikan informasi, menjadi bukti kesesuaian antara pangalaman yang penulis bingkai dengan keilmuan yang kini penulis ajarkan.
Sungguh, menjadi tidak sesuai (linier) bila penulis diminta mengampu mata kuliah jurnalistik, tetapi secara pengalaman –yang ditunjukkan dengan portofolio diri, tidak penulis miliki sama sekali.
Tentu, hasil pembelajaran pun akan mogol –bahasa Jawa yang berarti antara matang dan tidak bila itu diumpamakan makanan. Sehingga, hal itu membuat mahasiswa menjadi ragu terhadap apa yang disampaikan.
Namun yang terpenting, terdapat dua hal yang berkesan bila kita memiliki portofolio diri.
Pertama, sebagai modal kerja. Artinya, pelatihan yang waktu itu penulis menjadi peserta, ternyata kini bisa penulis jadikan modal kerja.
Maksudnya, pengetahuan perihal jurnalistik yang kemudian penulis padu dengan membeli buku-buku perihal kepenulisan, menjadi modal berharga untuk menyukseskan pembelajaran mata kuliah yang penulis ampu.
Andai penulis tidak memiliki rekam portofolio –sebagaimana di atas, dalam dunia kerja dosen tentu penulis akan mengalami kesulitan untuk bisa mengarungi dunia kerja yang serba kompetitif. Yakni, tidak sukses membawa keilmuan pada riil hakikinya.
Kedua, sebagai pengembang hard skill. Yang penulis maksud hard skill adalah kemampuan yang dimiliki –hasil dari belajar, yang diperoleh melalui pelatihan dan sebagainya di luar disiplin keilmuan.
Bila kemudian penulis tarik kepada ranah Prodi PAI, mahasiswa yang mengambil jurusan tersebut akan menjadi calon pendidik agama Islam. Entah di sekolah, madrasah –negeri atau swasta, hingga pondok pesantren.
Tentu selain menjadi calon guru PAI yang ditunjang keterampilan menulis, baik melalui mata kuliah jurnalistik, ikuti UKM Penalaran dan Penulisan Griya Cendekia atau Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri, hingga membentuk mahasiswa senang menulis dan menjadi penulis produktif, itulah yang penulis maksud impact dari pengambangan hard skill.
Artinya, mahasiswa PAI yang memiliki keterampilan menulis, tidak sekadar menjadi guru PAI yang sama dengan yang sudah ada. Melainkan punya penciri hasil pengembangan hard skill, berupa kemampuan menulis yang dipelajari baik di dalam maupun di luar jurusan (Prodi).
So, terjawablah nilai yang akan didapat dari membingkai kegiatan-kegiatan selama menjadi mahasiswa. Karena bingkai aneka kegiatan yang telah diikuti, sangat berguna dikehidupan mendatang sebagai penciri dan nilai lebih terhadap sesama.
Pertanyaannya, bila sama, lalu apa alasan kuat yang membuat orang lain memilih kita?
* Usman Roin, penulis adalah Dosen Prodi PAI, Fakultas Tarbiyah, Unugiri.
Posting Komentar untuk "Nilai yang Didapat dari Membingkai Portofolio Diri"