Falsafah Menulis: Perjuangan dari Nol Menulis yang Dibukukan
![]() |
Buku Falsafah Menulis (ilus.agus) |
usmanroin.com-Perjuangan menulis dari nol, itulah gambaran sederhana buku berjudul "Falsafah Menulis" yang diakhir tutup tahun 2024 akan terbit.
Perlu pembaca ketahui, penulis, dahulunya tidak bisa menulis. Utamanya, bagaimana membingkai ide aktual yang terjadi dan berseliweran di sekeliling, disusun sedemikian rupa, untuk kemudian dikirimkan di media massa.
Yang penulis rasakan, saat itu –kala kuliah S1, untuk memulai kata apa yang akan diketik saja bingung. Alhasil, ketika ide telah munculpun kebingungan tidak malah padam, tetapi linglung sendiri bagaimana mulai menuangkannya.
Itulah kondisi psikis yang penulis rasakan kala nol prutul belum bisa merangkai ide tulisan secara lancar. Sementara, teman penulis, telah malang melintang mampang secara rutin gagasannya di media cetak dan online.
Tentu, melihat teman yang telah mahir menulis –saat penulis masih bingung memulai darimana, timbullah "iri". Apakah penulis bisa? Dan kapan penulis gantian mampang di media massa!
Tulisan Mengalir
Karakter menulis yang mengalir –ringan, mudah dicerna, dan sarat makna, penulis dapatkan testimoninya dari teman dosen yang anonim. Anonim yang penulis maksud, karena beliau meminta untuk tidak dipublikasikan namanya.
Sebagai orang yang tahu kode etik jurnalistik –yakni Peraturan Dewan Pers No. 6/Peraturan-DP/V/2008 di Pasal 7, manakala narasumber tidak berkenan untuk disebutkan namanya dalam sebuah sumber tulisan, penulis juga tidak perlu menyebutkan identitasnya.
Perlu diketahui, tulisan penulis yang dibilang teman "mengalir" sebagaimana makna di atas, adalah implementasi keilmuan jurnalistik yang penulis pelajari.
Ikut pelatihan iya, membaca buku-buku perihal jurnalistik ya iya, dan ditunjang dengan belajar langsung kepada suhu –jurnalis, penulis lakoni agar bisa nyesep barokah keilmuan menulis yang dimiliki.
Jika demikian, karakter "mengalir" –sebagaimana disampaikan teman dosen, bagi penulis adalah keterampilan yang telah dilakoni berulang-ulang dan lama.
Mungkin, pembaca mengira, bila karakter tulisan penulis yang terbentuk kini, adalah cukup membalik tangan. Tidak.
Penulis sampaikan kepada pembaca, bila untuk karir sebagai penulis, telah penulis mulai sejak 2012. Kala itu –tahun 2012, penulis mempunyai bank data file tulisan-tulisan yang telah tayang di media cetak dan online untuk portofolio diri.
Coba pembaca lihat, 2012 ada 2 tulisan, 2013 ada 3 tulisan, 2014 ada 1 tulisan, 2015 ada 2 tulisan, 2016 ada 27 tulisan, 2017 ada 41 tulisan, 2018 ada 24 tulisan, 2019 ada 9 tulisan, 2020 ada 3 tulisan, 2021 ada 15 tulisan, 2022 ada 27 tulisan, 2023 ada 28 tulisan, dan 2024 sementara ada 30 tulisan. Sehingga total dari 2012-2024 adalah 214 tulisan.
Bahasa Jurnalistik
Selain oleh lamanya berkarir, karakter "mengalir" yang dikatakan oleh teman dosen, karena penulis mengamalkan bahasa jurnalistik yang oleh Rosihan Anwar dalam Rahmat Patuguran dan Saroni Asikin (2020:131) memiliki sifat-sifat khas mulai dari singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Oleh karena memiliki sifat-sifat khas, maka bahasa jurnalistik lekat digunakan oleh para jurnalis, redaktur dan pengelola media massa dalam menyusun dan menyajikan, menayangkan hingga menyiarkan berita serta laporan peristiwa secara benar, penting, dan menarik, dengan tujuan agar mudah dipahami isinya dan cepat ditangkap maknanya.
Penulis merasakan betul dari belajar sifat-sifat khas bahasa jurnalistik, teraplikasi nyata dari karya tulis yang penulis lahirkan.
Sehingga, hasil karya tulis penulis yang nongol di media massa secara istikamah tersebut, selain oleh karunia Allah Swt, meminjam bahasa Dedi Purwana dan Agus Wibowo (2019:13) adalah ukuran kepakaran serta kedalaman ilmu seseorang. Amin.
Karenanya –masih menurut beliau, sudah saatnya pemikiran akademisi bisa diakses oleh masyarakat luas melalui publikasi yang tayang di media massa.
Sudah saatnya pula, keahlian yang dimiliki akademisi bercengkerama dan bersilaturahmi dengan kehidupan masyarakat. Tidak sekadar disimpan dan ditumpuk dalam ruang perpustakaan pengap, karena berwujud karya ilmiah yang kaku.
So, buku "Falsafah Menulis" adalah cerminan karakteristik khas tulisan penulis, yang kata teman dosen, dibaca kalangan manapun dan siapapun it's okey, khas, nyentrik, dan tidak berbelit-belit. Sehingga, menjadikan orang mudah paham dan kecanduan membaca karyanya.
Mumpung ada pilihan pre order, monggo! Penulis siap mencatat pesanan dari pembaca budiman.
* Usman Roin, penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
Posting Komentar untuk "Falsafah Menulis: Perjuangan dari Nol Menulis yang Dibukukan"