Menulis Opini (itu) Mudah
![]() |
ilustrasi:man |
usmanroin.com-Di antara kompetensi jurnalis –tidak terkecuali pers mahasiswa, selain belajar teknik kepenulisan berita langsung (straight news), berita bertutur (features), fotografi, indepth dan investigation news, adalah menguasai pula keahlian menulis opini.
Mengapa keterampilan menulis opini itu penting? Hasil riset penulis –liputan6.com, gramedia.com, dan wikipedia.org, bagi mahasiswa menulis opini mendorong berpikir kritis (tajam) guna melakukan analisis terhadap sebuah peristiwa yang terjadi.
Selain memunculkan daya kritis, tulisan opini yang dibuat, akan punya dampak katalis perubahan sosial. Sebagai misal, gerakan demo mahasiswa “Indonesia gelap” Februari 2025, tidak terlepas dari “opini” sekelompok orang yang kemudian berkembang menjadi aksi nyata.
Bisa disimpulkan, bagi individu tulisan opini dapat membentuk daya kritis tumbuh dan meningkat, adapun secara sosial membawa perubahan ideal lekas terwujud
Pengertian
Untuk mengerti apa itu opini, bisa kita telusuri dari ragam bahasa. Mulai dari bahasa Latin “opinari” yang berarti berpikir atau menduga. Kemudian Inggris “opinion”, yang artinya pendapat atau tanggapan. Adapun KBBI sendiri, mengartikan opini sebagai pendapat, pikiran, atau pendirian.
Dari ragam istilah di atas, bisa disimpulkan opini adalah tanggapan atau pendapat terhadap suatu hal yang diungkapkan secara lisan atau tulisan. Juga bisa diartikan, cara kita menginterpretasikan (menafsirkan) suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi.
Jika difokuskan kepada dunia kepenulisan (jurnalistik), opini –minjam pengertian Leonardo W. Doob, adalah jenis tulisan yang kita buat untuk menyampaikan sikap atau pendapat mengenai sebuah persoalan atau keadaan yang pernah maupun yang sedang terjadi.
Ciri-ciri
Untuk mendeteksi tulisan opini, secara sederhana pembaca bisa melakukan identifikasi dari ciri-ciri berikut:
Pertama, mengandung unsur personal. Tulisan opini, dapat mudah kita deteksi dari penggunaan kata-kata yang menunjukkan sudut pandang pribadi. Seperti “menurut saya”, “saya rasa”, “saya berpendapat” atau alternatif dari penulis yang menggunakan sudut pandang pribadi dengan kata “penulis”.
Kedua, persuasif dan argumentatif. Tulisan opini, memang dibuat dengan tujuan mempengaruhi hingga meyakinkan pembaca. Oleh karena itu, gaya penyampaiannya cenderung membujuk secara halus (persuasif), atau memaparkan alasan yang dapat dipakai sebagai bukti (argumentatif).
Ketiga, subjektif. Tulisan opini, itu dibuat berdasarkan pandangan sendiri. Ia berpihak sepihak saja. Artinya menguntungkan satu pihak, sehingga informasi yang diberikan menjadi berat sebelah.
Di sinilah kita –sebagai pembaca, kemudian akan menemukan tulisan opini dalam suatu hal atau peristiwa yang sama. Hal itu sah terjadi, karena setiap penulis opini memiliki latar belakang yang berbeda dalam menanggapi suatu peristiwa yang akan, sedang, dan telah terjadi.
Karenanya, kejelian kita sebagai pembaca melihat latar belakang penulis opini akan mendapatkan informasi yang bersifat netral.
Keempat, fokus menjelaskan hal tertentu. Fokus yang penulis maksud, dalam menulis opini kita “hanya” akan menjelaskan perihal trend fenomena atau objek yang terjadi. Sehingga, dalam suatu objek atau fenomena, akan ada banyak orang yang menjelaskan atau memberikan pendapat –bentuk opini, atas objek maupun fenomena tersebut.
Langkah Menulis
Setelah pengertian dan ciri opini diketahui, langkah berikutnya adalah cara menulis opini. Secara mudah, terdapat lima langkah yang penulis tawarkan, antara lain:
Pertama, menggali ide. Dalam hal menggali ide, penulis biasanya melakukan pembacaan atau proses membaca –buku, koran, media online, yang disebut membaca teks (read the text).
Selain read the text secara harfiah, pembacaan juga bisa dengan melakukan pengamatan (observation) terhadap fenomena –tersirat yang terjadi, untuk kemudian terlahir tema tulisan opini.
Bila ide pokok (tema) opini telah muncul, penulis biasanya catat melalui notes gadget. Hal itu agar tidak terjadi kehilangan ide (lost ideas).
Kedua, kumpulkan referensi. Setelah ide opini muncul, kita bisa mengumpulkan berbagai rujukan (referensi). Langkah ini bagi penulis, bertujuan untuk menghindari kebuntuan ide (writer’s block). Bahkan, semakin banyak bahan tulisan ditemukan, akan memudahkan inspirasi menulis selalu hadir.
Ketiga, membuat outline. Kesuksesan menulis opini bisa ditopang dengan membuat garis besar (outline) apa saja yang mau disajikan terlebih dahulu. Hal itu sebagaimana pembaca amati dalam opini ini, penulis telah membagi dalam tiga garis besar. Yaitu pengertian, ciri-ciri, dan langkah menulis opini.
Keempat, mulai menulis. Dalam hal mulai menulis opini, prinsip dasar yang kudu diperhatikan adalah melakukan menulis secara bebas (free writing). Artinya, menungkan apa saja yang muncul hingga selesai.
Perihal tekniknya, bisa dengan langkah menulis sistematis (teratur, urut) mulai dari lead (pendahuluan, teras), kemudian isi, hingga kesimpulan. Bisa juga, dengan menulis bagian (part) tertentu sebagaimana outline yang telah dibuat.
Kelima, lakukan editing. Editing adalah proses untuk memperbaiki tulisan opini dari kesalahan ketik (typo), pemilihan kata yang kurang tepat (diksi), hingga batas jumlah kata.
Sebagai contoh dalam hal memimalisir typo, penulis biasanya lakukan export dari format word ke pdf. Pada format pdf inilah, penulis melakukan pembacaan ulang opini yang telah selesai dengan mengasih catatan teks hingga coretan sebagai penanda kesalahan ketik.
Dalam hal diksi, penulis gunakan bantuan aplikasi KBBI untuk mengecek kebakuan kata serta pilihan kata yang lain. Sehingga, kata “melakukan” –sebagai misal, bisa kita gunakan kata ganti yang lain “mengerjakan”, “melaksanakan”, “menjadikan” agar tidak monoton dan membosankan pembaca.
Kemudian perihal jumlah kata (word count), opini –yang penulis bikin ini, ada 911 kata dan 34 paragraf. Artinya, pembaca kala menulis opini di media, kudu memperhatikan aturan kepenulisan yang ditentukan oleh redaksi.
Standar penulis, biasanya kurang dari dua halaman –kuarto (A4), 5.000-6.000 karakter spasi 1,5. Lebih dari itu, redaktur sebuah media akan “mengabaikan” tulisan opini, artinya menolak secara halus terhadap karya yang telah dikirim.
Sebagai penutup, opini –yang pembaca baca, adalah contoh konkrit tulisan opini. Sengaja penulis buat model paparan demikian, selain pembaca mudah memahami sistematika tulisan opini, juga ditemukan keteladanan (role model) bahwa penulis adalah penulis opini.
Akhirnya, selamat mempraktikkan menulis opini (itu) mudah, sebagaimana contoh konkrit tulisan ini.
*Usman Roin, Penulis adalah Pembina LPM Arusgiri dan Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.
**Disampaikan pada Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) LPM Arusgiri Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri, Minggu (16/03/25), di Ruang B1 Gedung Fakultas Tarbiyah.
Posting Komentar untuk "Menulis Opini (itu) Mudah"