Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Editing, Skill Selain Menulis yang Kudu Dipelajari

ilustrasi:man

usmanroin.com-“Keterampilan yang kudu dimiliki oleh penulis ialah menyunting”. Perkataan Ismail Kusmayadi (2007:53) tersebut, sangat menarik untuk dicermati. 

Kala penulis memberi usulan Kaprodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri, agar  jurnalisnya ditingkatkan skillnya dibidang menyunting lalu disetujui, adalah kebanggaan tersendiri. 

Artinya, website prodi pai.unugiri.ac.id, sudah memikirkan estafet jangka panjang, berupa kualitas kerja karya jurnalistik yang kapabel. 

Agar hal itu terwujud, Kamis (27/03/25), di laboratorium micro teaching, diselenggarakanlah pembekalan menyunting kepada mereka bertema Workshop Editing Naskah Berita, dengan menghadirkan Pemred blokbojonegoro.com Parto Sasmito.

Bagi jurnalis –tidak terkecuali Prodi PAI, skill menyunting naskah berita memiliki nilai penting. Hal yang mendasar ialah menghindari kesalahan berbahasa dari teks yang ditulis berupa kata, kalimat, hingga paragraf.

Tentu pembaca bisa merasakan, jika mengeja tulisan yang banyak kesalahan, selain dianggap “tidak profesional”, proses melafalkan apa yang tertulis tidak akan dilanjutkan. “Malas”, itulah kata yang tepat terlontar.

Artinya, saat kita –sebagai pembaca, melihat banyak kesalahan pengetikan atau penggunaan ejaan, kenyamanan membaca akan terganggu.

Bahkan, pembaca tidak akan pernah ngambah lagi website tersebut meskipun selalu update berita (news), serta produk karya jurnalistik lain yang dipersembahkan.

Tiga Hal

Teruntuk jurnalis Prodi PAI, penulis sampaikan tiga hal mengapa keterampilan (skill) menyunting perlu dipelajari:

Pertama, agar naik kelas. Yang penulis maksud, jurnalis yang sudah terampil reportase –meliput dan menulis berita, ia kudu naik levelnya menjadi penyunting (editor).

Perlu diketahui, hasil liputan peristiwa jurnalis Prodi PAI, tentu "akan" ada kesalahan bahasa yang ditampilkan. 

Jika kemudian kesalahan tersebut tidak ada yang mengecek, saat publish di website, berita yang tersaji "akan" tampak ada kekurangan.

Oleh sebab jurnalis Prodi PAI sudah ada yang lama masuknya, di sinilah, ia kudu naik level menjadi editor guna melengkapi draf reportase "yang masih kurang". 

Bila kemudian Prodi PAI tanggap, inilah bukti, bila informasi yang disuguhkan bukan abal-abalan. Atau, sekadar menggugurkan kewajiban. Tetapi, menyajikan informasi kaya makna yang produknya sarat dengan keilmuan jurnalistik.

Kedua, memudahkan berita diterima media mainstream. Perlu diketahui, bila perilaku menyunting atau pekerjaan menyusun struktur menulis pemberitaan sebagaimana kaidah jurnalistik, itu menyenangkan dan memudahkan redaktur.

Bukti kemudahannya, redaktur tidak perlu menyusun ulang rilis berita sebuah lembaga yang dishare. Ia sekadar mengubah “sedikit” judul atau leadnya untuk kemudian dipublis. 

Alhasil, bila redaktur menerima rilis kampus yang telah diedit, selain fast respond, mereka juga akan fast publish juga. Itu karena, ketentuan kepenulisan rilis yang dikirim, telah sesuai kaidah kepenulisan dengan struktur piramida terbalik.

Ketiga, menjadi inkubator jurnalis. Meski Prodi PAI "bukan jurusan komunikasi" yang lekat dengan keilmuan jurnalistik, tetapi melalui pelatihan, workshop, akan bisa melahirkan bibit-bibit jurnalis. 

Artinya, kemampuan kerja jurnalistik melalui website Prodi PAI, bisa melahirkan jurnalis handal dalam bidang peliputan serta penyuntingan. Jika dua hal ini maujud –ada, Prodi PAI akan sangat bisa melahirkan jurnalis kompeten yang bisa membanggakan kampus.

Tiga alasan yang penulis sampaikan, semoga menjadi pemantik jurnalis Prodi PAI untuk meningkatkan level keterampilan reportase yang telah dikuasai, serta editing yang akan dikuasai.

Hal ini sebagaimana slogan Scribo Ergo Sum, yang maknanya, Aku –jurnalis Prodi PAI– menghasilkan berita, maka Aku ada.

Dengan naik level, maka keberadaanya akan selalu ada. Tidak kemudian disisihkan begitu saja, tetapi “eksis” berkontribusi dilevel yang lebih tinggi.


*Usman Roin, Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.

: UR
: UR dosen bloger

Posting Komentar untuk " Editing, Skill Selain Menulis yang Kudu Dipelajari"