Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Materi Opini Berwujud Opini

SESI-sharing 2 PJTL Arusgiri (foto:najib)

usmanroin.com-Bila kebanyakan pemateri kala menyampaikan paparan menggunakan slide ppt, lain halnya dengan penulis saat menyajikan materi pada pelatihan jurnalistik tingkat lanjut (PJTL), LPM Arusgiri, Minggu (16/03/25).

Penulis, meminta kepada anggota LPM Arusgiri yang baru, membaca opini berjudul "Menulis Opini (itu) Mudah" yang sudah penulis posting di blog pribadi (personal blogger).

Ide tersebut memang sudah penulis antisipasi, manakala ada kendala teknis –kabel proyektor-tv plasma tidak bisa terhubung dengan laptop, yang delalahnya nyata terjadi. Pas pula sedang menjalankan ibadah puasa.

Ini yang dinamakan responsif-inovatif. Yakni, menggunakan media lain agar materi pelatihan tetap bisa tersampaikan dengan baik. 

Jika tidak, dan masih bersikikuh dengan penyiapan materi via laptop yang masih butuh operator, penyampaian akan kurang maksimal. 

Masih pula, ditambah lamanya menunggu terhubung antara kabel dan laptop maupun tv plasma. 

Bahkan, bila endingnya tidak kunjung terhubung, apalagi kalau tidak masuk kategori "gagal" memahamkan peserta pelatihan. Oleh sebab, mecungul kendala teknis yang tidak terduga.

Perihal Teknis

Terkait teknis penyampaian materi, penulis meminta kepada peserta PJTL, untuk menutul link judul tulisan yang telah penulis bagikan kepada panitia. 

Kemudian, penulis jelaskan kepada peserta teknis pelatihan dibagi menjadi empat sesi. 

Pertama, sesi membaca materi opini selama 15 menit. Kedua, sesi sharing 1 dengan alokasi 30 menit. Ketiga, praktik menulis opini 90 menit. Dan keempat, sesi sharing 2 sebanyak 30 menit.

Pada sesi membaca materi, penulis "seakan" menunjukkan kepada anggota contoh menulis opini itu seperti tulisan yang dibaca. 

Mudahnya, untuk melihat bagaimana alur tulisannya, cukup melihat tulisan yang penulis buat. Bisa disebut, materi opini berwujud opini. 

Materi opini yang penulis buat, menjelaskan perihal nilai penting (urgensi), pengertian, ciri-ciri, serta langkah menulis opini. 

Tidak lupa, tulisan yang lahir dari riset tersebut, penulis deskripsikan dalam bahasa yang mudah dipahami pembaca secara umum. Tidak terkecuali, anggota pers mahasiswa (Persma) Arusgiri Unugiri.

Apa hanya untuk Persma saja? 

Jawabnya tidak. Tetapi, siapa saja yang memiliki link, atau yang coba mencari alamat blog penulis, materi perihal "Menulis Opini (itu) Mudah" bisa ditemukan dan langsung gas baca layaknya buka puasa.

Setelah membaca, kemudian diteruskan sesi sharing 1. Pada sesi ini, penulis secara bergantian bertanya kepada anggota PJTL perihal materi opini yang dibaca. Jujur penulis senang. Sebab, materi menulis opini telah dipahami dengan baik oleh peserta. 

Sebagai bukti, penulis coba tanyakan pengertian, ciri-ciri, kemudian langkah menulis opini. Nyatanya, peserta bisa menjawab dengan bahasanya sendiri dan benar pula. 

Bahkan ada juga, peserta yang turut menanggapi, melengkapi, dan bertanya mendalam perihal menulis opini kepada penulis.

Kemudian, pada sesi praktik menulis opini. Penulis meminta peserta untuk mencari spot tempat di luar ruang pelatihan. Tujuannya, biar inspirasi menulis muncul dan mood menulis terbangun menjadi keterampilan yang dicintai. Sehingga menulis mengalir tak terkendali.

Saat praktik, penulis meminta kepada peserta menggunakan aplikasi bawaan "notes" yang telah terinstal pada masing-masing gawai. 

Perihal panjang jumlah tulisan opini, penulis tawarkan dahulu kepada peserta hingga akhirnya disepakati sebanyak 15 paragraf.

Sementara dipenutup pelatihan, penulis mengumpulkan peserta dengan posisi melingkar (halaqoh). 

Saat sesi sharing 2 inilah, penulis bertanya kepada peserta PJTL perihal judul opini yang dibuat, jumlah paragraf yang dihasilkan, hingga kendala yang dihadapi saat melakukan praktik menulis. 

Pada sesi terakhir inilah, penulis memberi penguatan dan juga penyelesaian permasalahan menulis sebagaimana pengalaman praktis yang penulis miliki. 

Alhasil di sesi ini, penulis tidak asal menagih hasil praktik. Tetapi, lebih kepada upaya membumikan keberadaan penulis –melingkar bersama peserta, dan meyakinkan bila menulis opini itu mudah. 

Menulis, semakin biasa, semakin bisa. Sebaliknya, semakin tidak biasa, semakin tidak bisa. Itu saja.


*Usman Roin, Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.

: UR
: UR dosen bloger

Posting Komentar untuk "Cerita Materi Opini Berwujud Opini"